Meneladani Sosok Mandela

 358 total views,  2 views today

Nelson Mandela

Nelson Mandela

BERPULANGNYA, Nelson Mandela  Kamis (6/12) lalu cukup menyentak public dunia. Nelson Mandela wafat di kediamannya di Johannesburg, Afika Selatan, dalam usia 95 tahun. Sosok yang akrab disapa Madiba tersebut mengembuskan nafas terakhir setelah sebelumnya menjalani perawatan selama tiga bulan akibat infeksi paru-paru dan tuberculosis.
Dari komentar berbagai tokoh di dalam negeri kita rata-rata mengatakan sosok Nelson Mandela tak cukup hanya dikenang, tetapi harus diteladani. Sebab jejak langkah kehidupan beliau telah memberi pelajaran besar dan berharga bagi kita semua termasuk yang berada di Indonesia ini.

Sikap yang patut diteladani dari Nelson Mandela di antaranya adalah jiwa besar tokoh yang sempat dipenjara hampir 27 tahun oleh penguasa minoritas di Afrika Selatan itu. Uniknya setelah keluar penjara tidak ada dendam, tapi justru bersama-sama membangun, tidak membeda-bedakan golongan kulit putih dan kulit hitam, pribumi dan pendatang.
Hal lain yang patut diteladani diteladani dari sosok Mandela adalah keputusannya menolak saat ditawari untuk kembali maju dalam pemilihan presiden Afrika Selatan, setelah sebelumnya menjabat posisi tersebut selama lima tahun.
Cukup lima tahun menjabat presiden untuk bersama-sama seluruh golongan membangun dan mengembangkan Afrika Selatan. Saat ditawari maju lagi ke pemilihan, Beliau menolak.  Sikap ini mencerminkan keteguhan yang  luar biasa dan harus jadi teladan seluruh manusia di dunia termasuk di Indonesia. Di negeri ini  yang terjadi  biasanya ketika habis masa jabatan sang Presiden tetap menginginkan kekuasaan di genggamannya  meski rakyat kadang telah melakukan penolakan luar biasa.

Bukan hanya itu, keteladanan dan kegigihannya dalam mengajarkan sikap anti balas dendam relevan untuk diterapkan di negeri ini ketika kita seringkali baku hantam karena terjebak dendam yang berkepanjangan. Akibatnya yang terjadi mulai dari pasca kemerdekaan, muncul rezim orde lama. Lalu tumbang ketika muncul orde baru. Orde barupun ternyata bukanlah solusi atas permasalahan bangsa bahkan memunculkan perilakukan Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang parah sehingga membuat bangkrut Negara. Kemudian beralih ke orde Reformasi hingga saat ini. Tetapi ironisnya di tiap era atau orde itu selalu ada sisa dendam dan saling membalasnya sehingga tak jarang muncul konflik berkepanjangan di negeri ini. Moga dengan meneladani sosok Mandela kita semua makin bijak ketika mendapatkan amanah mengurus Negara dan menyejahterakan rakyatnya.

(Sarono P Sasmito)

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster