“Enam Bulan Tak Gajian, Kami Terpaksa Berhutang”

 220 total views,  2 views today

Feni Abdullah, bersama siswa MA Ar Rozi dan gedung sekolahnya yang sederhana. Tetap eksis meski hidup dari hasil ngutang.

Feni Abdullah, bersama siswa MA Ar Rozi dan gedung sekolahnya yang sederhana. Tetap eksis meski hidup dari hasil ngutang.

PALI | KS –Derita pahlawan tanpa tanda jasa alias guru di negeri ini nampaknya belum berakhir. Anggaran pendidikan yang digelontorkan hingga menebus puluhan triliun ternyata tidak begitu berarti bagi para pendidik di Sumatera Selatan, khusunya Kabupaten PALI.

Faktanya, hingga saat ini, ribuan guru swasta di Kabupaten PALI belum mencicipi nikmatnya gajinya hingga enam bulan.

Meski pahit, banyak guru bersabar dan tetap menenuhi kewajibannya. Hal itu seperti yang dilakukan Feni Abdullah, guru Madrasah Aliyah Ar Rozi, Desa Sedupi, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI.

Tidak ada guratan kecewa atau gelisah diwajah Feni. Ia asyik bercanda dengan beberapa siswanya. Dengan tekun ia memimpin siswa bermain volley ball di halaman sekolah. Ia tetap ceria.

Tidak ada yang tahu, Feni saat itu sudah enam bulan belum menerima gaji. Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang dijanjikan pemerintah, sampai kini hanya cerita belaka.

“Alhamdulillah, belum gajian kak. Sejak tahun ajaran baru kami tidak gajian. Mana hak kami. Tapi untungnya masih ada tetangga, warga dan orang tua siswa yang mau memberikan hutang kepada kami,” ucapnya sidikit malu.

Untuk menyiasatinya, Feni tidak berhutang disatu tempat. Ia berhutang ke beberapa teman, tetangga bahkan orang tua siswa. “Disatu tempat, paling banyak hutang saya tiga juta,” ungkapnya.

Feni adalah salah satu dari ribuan guru Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), swasta di Kabupaten Muaraenim yang sampai saat ini belum menerima gaji. Program sekolah gratis yang melarang sekolah mengambil pungutan dari siswa membuat sekolah hanya bersandar pada dana Bantuan Operasional Siswa (BOS).

Dana BOS yang diambil dari APBD Kabupaten Muaraenim inilah yang sampai saat ini belum cair. Para kepala sekolah pun hanya bisa memberikan kekuatan untuk bersabar kepada para gurunya agar tetap tenang dan tidak bergejolak.

“Sumber pendapatan kami, hanya dari BOS. Kalau dana BOS terlambat, ya harus sabar,” kata Salim, Kepala Sekolah (Kepsek), SMA YPI Peris Pendopo Kabupaten PALI.

Untungnya, lanjut Salim, para guru disekolahnya sudah terlatih untuk sabar menerima kenyataan gaji dibayar telat, sehingga tidak timbul gejolak.

“Kita ini sudah terlatih Mas. Dua bulan, tiga bulan terlambat itu sudah biasa. Niat kita cuma ngajar. Jadi, kalau sampai demo jelas nggak lah. Sabar saja. Biar telat, yang penting ngajar. Kalau demo, kasian anak-anak. Rejeki Allah yang ngatur,” jelas Salim.

Hal yang sama juga dituturkan  Sahid Subki, Kepala Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Hilal, Desa Harapan Jaya, Kecamatan Tanah Abang, Kabupaten PALI.

“Kalau telat sudah biasa. Resiko jadi guru. Kalau gaji tidak mau telat yaa… jangan jadi guru,” tukas Sahid sambil tertawa.

Lain lagi dengan M Taufik SE, Kepsek, Madrasah Aliyah YPI Ikhsaniyah Pendopo Kabupaten PALI.

Taufik yang mengaku sudah puluhan kali bolak-balik Pendopo-Muara Enim untuk mengurus dana ini, mengaku ia sudah berhutang kesana-sini untuk menutup biaya operasional. Namun karena jumlahnya sangat besar, ia meminta pengertian guru-guru disekolahnya untuk bersabar.

“Jumlahnya besar pak, 91 juta. Saya tidak sanggup nombokinya. Syukur Alhamdulillah, teman-teman mengerti dengan kondisi ini. Mereka ikhlas gaji mereka telat” jelasnya.

Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik), Kabupaten Muaraenim melalui Kasi Kurikulum, Amir Hamzah saat dikonfirmasi mengakui bila dana BOS yang berasal dari APBD Muaraenim belum dibagikan.

“Memang belum pak. Dana BOS untuk sekolah swasta belum cair. Tapi yakinlah tidak lama lagi dananya kami cairkan. Karena masih dalam proses. Keterlambatan ini disebabkan adanya perubahan yang mengacu keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri),” singkat Amir.

Untuk itu, Amir berharap para guru dan kepala sekolah untuk bersabar. Berkas proposal dana hibah ini saat ini masih di Dinas PPKAD Kabupaten Muaraenim.

 

Teks : Indra Setia Haris

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster