Sungai Sebagut Mulai Surut

 256 total views,  2 views today

Pakualam, warga desa Purun, menunjukkan ketinggian air yang sempat mencapai pinggang.

Pakualam, warga desa Purun, menunjukkan ketinggian air yang sempat mencapai pinggang.

PALI | KS –Setelah sempat menggenangi rumah dan mengganggu aktivitas warga, luapan Sungai Sebagut kini mulai menyurut. Warga yang melintasi Desa Panta Dewa, Purun dan Babat sudah berjalan normal.

Hanya beberapa rumah saja di Desa Purun Kecamatan Penukal yang masih digenangi air sebatas mata kaki. Sementara di Desa Babat ketinggian air masih sebatas lutut orang dewasa.

“Banjir seperti ini sebenarnya sudah biasa, tapi memang tahun ini banjirnya paling besar dan membikin repot,” kata Junaidi salah satu warga.

Menurut Junaidi, banjir yang terjadi merupakan banjir kiriman dari daerah Pendopo (Talang Ubi -red). “Kalau di Pendopo hujan lebat beberapa jam kemudian air disini pasang,” kata Junaidi yang juga PNS ini.

“Tadi saya sempat ke kebun, mau menyadap karet tapi airnya tinggi, tidak bisa lewat. Mungkin kebun saya juga kebanjiran. Jadi balik lagi,” kata Markos salah satu warga, menambahkan.

Sementara di Desa Purun saat sebagian besar  penghuni rumah warga yang terkena banjir sudah membersihkan rumahnya,  beberapa rumah lainnya masih digenangi air.

Seperti yang dialami Pakualam (31). Dirinya lebih memilih menemani istrinya berjualan sayur di atas balai-balai di depan rumahnya. Air hitam kental setinggi mata kaki, masih mengisi lantai rumahnya.

Yang membuat sedih Pakualam, buku pelajaran sekolah milik Paradilah, anaknya terkena banjir. Bahkan beberapa baju seragam anaknya hilang entah kemana.

“Tadi dia (anak –red), sekolah pakai baju sembarang. Dia tidak mau libur, asal bisa sekolah saja,” kata Pakualam.

Pakualam kebingungan untuk mengganti buku pelajaran milik sekolah yang dipinjamkan kepada anaknya. Apalagi sebentar lagi anaknya akan ujian akhir. “Kalau basah seperti ini bagaimana dia mau belajar” ujarnya seraya menunjuk buku-buku pelajaran yang dijemur.

Pakualam berharap pemerintah dapat mencari solusi agar banjir seperti ini tidak lagi mengganggu tidur nyenyak mereka saat musim hujan. “Pemerintah kan pintar. Pasti lebih tahu,” harap dia.

Pantauan wartawan, warga yang biasanya pergi ke kebun lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Warga masih khawatir air akan kembali meninggi.  Disamping berjaga-jaga, warga juga belum bisa menyadap karet. Beberapa kebun karet warga justru tergenang air seehingga tidak bisa dilalui.

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster