Mulianya Jadi Seorang Guru

 278 total views,  2 views today

Sri-Yanti-(4)

Oleh: Sri Yanti, M.Pd.I

Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadyah Palembang

Pendidikan merupakan tiang pancang kebudayaan dan pondasi utama untuk membangun peradaban bangsa.  Kesadaran arti pentingnya pendidikan, amat menentukan kualitas kesejahteraan lahir batin dan masa depan warganya. Karena itu substansi pendidikan, materi pengajaran dan metodologi pembelajaran, serta manajemen pendidikan yang akuntabel seharusnya jadi perhatian bagi  penyelenggara Negara.

Terbukti bahwa, seluruh bangsa yang berhasil mencapai tingkat kemajuan kebudayaan dan teknologi tinggi, mesti disangga oleh kualitas pendidikan yang sangat kokoh. Dan itu adalah, tugas mulia sosok guru. Bertanggung jawab menumbuhkan dan mengembangkan jasmani dan rohani manusia.

Sejalan dengan nilai-nilai Islam, jasmani menjadi sehat lewat pengetahuan dan nilai-nilai keimanan. Serupa kiasan yang bunyinya ‘dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan’. Ini identik dengan Tut Wuri Handayani  yang merupakan tanggung jawab seorang pendidik dalam mencerdaskan peserta didik (siswa) untuk bangsanya. Ungkapan ini juga diperkuat dengan kiasan Ing Ngarso Sungtulodo yang diartikan, ‘di depan seorang pendidik, harus memberikan tauladan atau contoh tindakan yang baik.’

Namun demikian, guru harus bertanggung jawab atas perkembangan akal dan jiwa peserta didik. Sehingga, peserta didik memiliki ilmu pengetahuan yang luas. Baik secara aqly maupun naqly. Jiwanya bersih dan berisikan nilai-nilai iman yang kuat dan benar, ketaqwaan, ibadah, amal saleh, dan akhlak mulia. Dalam hubungan ini, haruslah sifat-sifat Tuhan yang terkadung di dalam Al Asma’ Al Husna itu dikembangkan sebaik-baiknya pada diri manusia. Inilah dia pendidikan menurut pandangan Islam.

Mengingat kedudukan guru di dalam menggapai prestasi sangatlah penting, maka seorang guru pun harus mempunyai pola mengajar yang dapat memotivasi siswa agar mampu melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai seorang pelajar. Tersebab itu, guru bahkan harus mempunyai pola mengajar ketika menyampaikan informasi atau bahan pelajaran kepada siswa-siswanya.

Keberhasilan pendidikan adalah tergantung beberapa faktor. Salah satunya, guru sebagai pelaksana dan ujung tombak pendidikan dituntut memiliki kemampuan. Kemampuan yang tercermin dalam kompetensi atau keterampilan guru dalam mengajar. Antara lain adalah, guru harus menguasai bahan yang diajarkannya dan terampil dalam hal cara menyampaikannya. Ada beberapa peranan seorang guru dalam menjalankan kewajibannya sebagai pendidik diantaranya sebagai berikut:

Pertama, sebagai informator atau pemberi informasi. Maka guru harus dapat memberikan ilham yang baik dan benar bagi kemajuan belajar anak didik. Artinya, guru harus dapat memberikan petunjuk bagaimana cara belajar yang benar dan baik.

Kedua, guru sebagai organisator. Artinya mengelola kegiatan akademik, seperti menyusun tata tertib sekolah, menyusun kalender akademik, menyusun silabus, worshop, jadwal pelajaran dan lain-lain.

Ketiga, guru sebagai motivator. Guru hendaknya dapat mendorong anak didik agar bergairah dan aktif dalam belajar.

Keempat, guru sebagai inisiator. Guru harus dapat menjadi pencetus ide-ide yang berkaitan dengan kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran.

Kelima, Sebagai transmitter atau penyebar. Guru harus bertindak bijaksana, sebagai penyebar ilmu pengetahuan kepada anak didik. Guru tidak boleh menyebarkan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan pendidikan dan pengajaran, atau menyebarkan isu-isu yang membuat siswa semakin malas belajar di sekolah, dan sebagainya.

Keenam, Peranan guru sebagai fasilitator. Artinya, dapat menyediakan fasilitas-fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik.

Ketujuh, sebagai mediator. Kali ini guru pun harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup tentang media pendidikan dalam berbagai bentuk dan jenisnya, baik media non material maupun material. Kedelapan, guru dituntut untuk menjadi seorang evaluator atau penilai yang baik dan jujur. Memberikan penilaian yang menyentuh aspek ekstrinsik dan instrinsik.

Berdasarkan hal ini, maka guru harus pula bisa memberikan penilaian dalam dimensi yang luas. Penilaian kepribadian anak didik, tentu lebih diutamakan daripada penilaian terhadap jawabannya ketika diberikan tes menjawab soal-soal.  (*)

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster