Antisipasi Bencana, DAS Direhab

 239 total views,  2 views today

PAGARALAM KS-Kondisi sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berada di
kawasan pemukiman  mendesak direhabilitasi. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk mengantisipasi terjadinya bahaya longsor di bantaran sungai yang melintasi pemukiman warga di Bumi Besemah ini. Sebab itu,  sangat perlu  dilakukan penanaman pohon pelindung agar dapat mencegah abrasi pematang sungai yang kerap kali dihantam air  saat terjadi banjir.

“Memang, ada beberapa sungai dalam kondisi kritis dan cukup rawan longsor.  Apalagi curah  hujan yang tinggi kerap mengguyuri Pagaralam hingga berpotensi terjadinya banjir dan longsor, seperti sungai Selangis, Air Betung, Air Perikan, Lematang, dan  ada beberapa sungai lainnya kerap meluap,” kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Imam Pasli SSTP MSi, Rabu  (4/12).

Imam berkata, tiap kali hujan turun banyak air kiriman dari hulu sungai hingga membuat hilir sungai tak mampu menampung debit air yang berlebihan secara terus menerus. Akibatnya sering terjadi banjir hingga merendam areal perkebunan, sawah, bahkan sampai kepemukiman warga termasuk  jalan-jalan raya. Selain itu, bukan tidak mungkin semua yang menghalangi  kedatangan arus deras akan dihantam, bahkan bisa saja menimbulkan korban jiwa

“Bila terjadi hujan lebat dan debit air kiriman sangat banyak, maka akan dapat diantisipasi apabila banyak pepohonan. Selain itu, jika daerah resapan air terjaga maka kemungkinan terjadinya banjir bandang sangat kecil terjadi karena kondisi air normal,” jelasnya.

Lanjutnya, sebagai langkah mencegah kerusakan yang terjadi akibat derasnya arus air tersebut, pihaknya giatkan penanaman pepohonan dibantaran sungai terutama daerah serapan air atau kawasan hutan lindung. Sesuai dengan data yang ada, Dishutbun kota Pagaralam telah melakukan penanaman bibit pohon pelindung sebanyak 186.772  disejumlah bantaran sungai di Pagaralam.

“Sebagai langkah mengatasi terjadinya banjir bandang, sejauh ini penanaman bibit pohon pelindung lebih difokuskan pada kawasan sungai dengan radius 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk sungai kecil,” katanya.

Namun begitu, prioritas penanaman pun terus dilakukan dibeberapa lokasi rawan seperti daerah Cughup Mangkok, Cughup Embun hingga kawasan hutan kota. Imam mengatakan,  sebagai bentuk menjaga kesatuan ekosistem alam, Pemerintah Kota Pagaralam melarang setiap warga yang hendak mendirikan bangunan di sekitar kawasan  Daerah Aliran Sungai (DAS). Mengingat fungsi  DAS yang ada merupakan satu kesatuan ekosistem besar yang harus dikelola secara arif dan terpadu demi kepentingan bersama.

“Sejauh ini kita mengutamakan penanaman kembali disekitar kawasan resapan air, karena kawasan dimaksud diyakini dapat mencegah terjadinya banjir bandang dan juga mengakibatkan tanah longsor,” bebernya.

Kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Drs Hermawan  mengatakan, tiap kali akan merencanakan suatu pembangunan fisik, harus mengedepankan berbagai izin yang telah ditetapkan. Baik itu pengurusan IMB maupun izin lingkungan. Apalagi lokasi pembangunan yang ada masuk kedalam kawasan kesatuan ekosistem alam atau di daerah aliran sungai tentunya
sangat diperlukan berbagai penelitian terlebih dahulu.

Karena kawasan DAS terdapat banyak aktivitas mulai dari subsistem ekonomi, sosial kultural dan banyak kepentingan lintas sektor maupun wilayah administrasi yang juga ikut melibatkan berbagai pihak.

“DAS berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau hingga laut secara alami. Sementara batas di darat
merupakan pemisah topografi dan batas laut sampai daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan,” singkatnya.
TEKS       : ANTONI STEFEN

EDITOR : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster