Konflik Hak Tanah Terjadi Lagi

 217 total views,  2 views today

BPN Dan Warga Bediskuskusi untuk Untuk mencari titik terang konflik tanah ini

Maulana dan Dumiati tampak bermusyawarah dengan pejabat BPN di rumah warga.

LAHAT KS-Dua warga di Kabupaten Lahat saling klaim hak tanah seluas 1,25 hektar. Tanah milik warga lain pun ikut ke ranah sengketa. Untuk itu, Badan Pertanahan Nasional (BPN) beserta pihak kelurahan terpaksa ikut mencarikan solusinya.

Tanah seluas 1,25 hektar yang berlokasi di Jalan Kuburan Massal di Kelurahan Gunung Gajah milik Maulana tumpang tindih dengan kepemilikan Dumiati. Si Dumiati pun akhirnya menjual beberapa titik tanah yang dimiliki Maulana.

Untuk mencari titik terang konflik tanah ini, BPN dan Lurah setempat turun ke lapangan, Kamis (28/11). Sejak pukul 09.00 hingga 14.35 WIB, rombongan BPN tak berhasil mengambil keputusan, sebab dua kubu yang berperkara dibalut emosi.

Informasi yang dihimpun Harian Umum Kabar Sumatera, pihak Maulana masih menyimpan sertifikat tanah, namun Dumiati hanya memegang surat kuasa yang dibuat Maulana.

Tik Ling, salah satu pemilik tanah yang pernah dijual Dumiati bahkan sangat emosi. Soalnya, di atas tanahnya seluas 15 x 100 meter kini berdiri bangunan yang dibangun Dumiati.

“Bagaimana lagi, tanah aku dijualnya. Sekarang, kami mau menuntut. Dulu, aku beli tanah dengan Maulana ada sertifikatnya. Tak tahunya tanah itu kini jadi bangunan permanen,” cetus Tik Ling dengan nada lantang.

Akhirnya, BPN pun meminta kejelasan dari Maulana. Kata Maulana, tanah miliknya itu sah karena sertifikat yang dimilikinya telah berbdan hukum. Untuk itu, Maulana juga menuntut keadilan agar tanahnya kembali padanya, meski telah diperjualbelikan oleh Dumiati.

“Memang kami lama tinggal di Palembang, sehingga tanah itu tidak kami urus lagi,” kata Maulana singkat.

Gayung bersambut. Dumiati pun menceritakan, tanah yang dijualnya adalah miliknya sebab sesuai surat kuasa dari orangtuanya.

“Tanah itu aku jual, karena sesuai dengan surat kuasa wongtuo aku,” kilah Dumiati.

Setelah beberapa jam mendengarkan klarifikasi dua pemilik tanah yang berperkara, pihak BPN angkat bicara. Yang intinya, perkara tanah yang dipermasalahkan tak bisa diukur dan ditemukan titik nol

“Makanya, kami hanya bisa menenangkan dua kubu ini dan berharap mereka bisa kompromi. Jika, sepakat kami akan datang lagi guna mengukur dan menentukan titik nol  sehingga perkara tanah ini tidak berlarut-larut,” ungkap petugas BPN yang enggan dituliskan identitasnya.

TEKS/FOTO:JUMRA ZEFRI

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster