Profesionalisme Seorang Guru

 416 total views,  2 views today

Darwin Effendi, S.Pd., M.Pd. Dosen Universitas PGRI Palembang

Darwin Effendi, S.Pd., M.Pd.
Dosen Universitas PGRI Palembang

Berbicara tentang profesi guru di Indonesia, muncul pertayaan, apakah setiap guru sekarang sudah menjadi guru profesional seperti harapkan sejumlah pihak? Apakah guru sudah menjalankan proses belajar mengajar sudah sesuai dengan aturan yang berlaku, sebagaimana tuntutan profesionalisme guru?

Setiap orang, termasuk guru punya kewajiban melakukan pekerjaan secara profesional. Tujuannya agar menghasilkan produk yang memadai (bagus). Profesional adalah sifat sesuatu pekerjaan sesuai dengan keterampilan, penampilan dalam menjalankan jabatan sesuai dengan tuntutan profesi, dan orang yang mempunyai profesi. Dengan demikian, profesional adalah mengacu kepada sifat yang khusus ditampilkan oleh orang yang memegang profesi tertentu. Atau, sebagai suatu proses perubahan individual maupun kelompok atau kombinasinya menuju kemampuan profesional tertentu.

Menurut Sikun Pribadi (1976), profesi pada hakikatnya adalah suatu janji terbuka bahwa seseorang akan mengabdikan dirinya dalam suatu jabatan atau pekerjaan dalam arti biasa, karena seseorang tersebut merasa dirinya untuk menjabat pekerjaan. Dalam proses belajar mengajar, guru menempati posisi penting dan penentu berhasil tidaknya pencapaian tujuan suatu proses pembelajaran. Sekalipun proses pembelajaran telah menggunakan berbagai model pendekatan dan metode yang lebih memberi peluang siswa aktif, akan tetapi kedudukan serta peran guru tetap penting dan juga menentukan keberhasilan.

Seorang guru harus menguasai materi pembelajaran yang akan disampaikan, menguasai metode pembelajaran, menentukan keberhasilan dalam pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak sekaligus dirigen yang berperan sebagai pemimpin. Oleh karena itu pembinaan dan mempersiapkan calon guru yang profesional melalui berbagai pelatihan dan studi lanjutan sangatlah penting dan strategis. Setiap guru adalah pendidik, tetapi tidak setiap pendidik adalah guru. Guru adalah pendidik profesional.

Guru harus mampu memerankan fungsi sosial kultur guru, yaitu (1) sebagai komunikator, menyediakan sumber informasi, menjaring informasi, mengelola informasi dan menyampaikannya kepada siswa mereka memahami isi dan maksud informasi tersebut; (2) sebagai inovator yaitu melakukan seleksi informasi bukan saja didasarkan nilai informasi generasi yang lampau, juga pada kemungkinan relevansi dan nilainya bagi generasi yang sedang tumbuh; dan (3) sebagai emansipator yaitu membantu membawa individu atau kelompok ke tingkat perkembangan kepribadian lebih tinggi, dalam hal sikap ilmu pengetahuan dan keterampilan yang memungkinkan mereka dapat berdiri sendiri dan membantu sesamanya.

Seorang guru diharapkan mampu memiliki sikap: ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangunkarso, tut wuri handayani. Di depan menjadi teladan, di tengah membangun karsa, membangkitkan semangat dan kreativitas, serta di belakang memberi motivasi, mengawasi, dan mengayomi.

Dalam Undang-Undang UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pasal 20 dinyatakan bahwa dalam melaksanakan tugas keprofesionalan, guru berkewajiban (a) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran; (b) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni; (c) bertindak objektif dan tidak diskriminatif atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras, dan kondisi fisik tertentu, atau latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi peserta didik dalam pembelajaran; (d) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan, hukum, dan kode etik guru, serta nilai-nilai agama dan etika; dan (e) memelihara dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Profesi keguruan mempunyai dimensi yang sangat luas dan dalam, mulai dari pemahaman secara mendalam tentang wawasan yang mendasari pergaulan pendidikan antara murid, penguasaan materi ajar sampai kepada pemahaman tentang latar keadaan, lingkungan apa tindakan pendidikan harus dilakukan (Soetjipto dan Raflis Kosasi, 2000).

Pekerjaan yang sudah menjadi sebuah profesi menuntut kinerja yang profesional dari setiap orang yang menekuninya, termasuk dalam hal ini bagi guru yang ada di lingkungan organisasi pendidikan. Apabila ingin memperkuat dan memperkokoh profesi, salah satunya yakni guru harus menjaga citra tenaga kependidikan. Selamat Hari Guru!.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster