Noda Hitam “Oemar Bakri”

 344 total views,  2 views today

Ilustrasi Guru Sedang Mengajar Murid | Foto : Bagus Park

Ilustrasi Guru Sedang Mengajar Murid | Foto : Bagus Park

PALEMBANG KS-Kekerasan dalam dunia pendidikan sudah menjadi noda hitam pekat . Banyak “oemar bakri” (para guru), yang tidak menempatkan moral dan etika sebagai landasan berpikirnya, hal inilah yang membuat wajah pendidikan di Indonesia tercoreng tidak terkecuali di Palembang.

Berdasarkan data yang dirangkum Litbang Kabar Sumatera sepanjang tahun 2012-2013 ada beberapa kasus yang terjadi dan mencoreng dunia pendidikan Sumsel pada Februari 2012 misalnya, seorang siswa SD Negeri 64 Palembang, ditampar gurunya sebanyak enam kali. Bermula saat Rizal (korban) ribut bersama temannya masalah bola tennis (bola kasti,red). Keributan ini terdengar oleh Kar (Oknum guru), hingga Rizal dipanggil lalu ditamparnya berulang kali. Bahkan, setelah ditampar beberapa kali, rambut Rizal sempat dicekal oleh oknum guru tersebut agar ia lebih mudah menampar pipi anak muridnya.

Selanjutnya di November 2013. Samu (55), Guru Mata Pelajaran Sejarah di SMP Negeri palembang, mencabuli murid SD bernisial HL (10) yang tidak lain adalah teman akrab anak kandungnya.

Oktober 2013, Oknum guru olahraga Sekolah Menengah Atas (SMA) 14 Negeri Palembang, melakukan pelecehan seksual terhadap seorang siswinya. Perlakuan kekerasan oknum guru tersebut, menuai banyak reaksi dan tanggapan dari berbagai kalangan.

Pemerhati pendidikan DR.Ismail Sukardi,M.Ag menilai, oknum pendidikan yang melakukan hal tersebut, telah mengikis habis image “pahlawan tanpa tanda jasa” , secara tidak langsung hal tersebut sudah mencederai dunia pendidikan, tidak sepatutnya seorang guru melakukan tindakan tersebut, terlebih oknum tersebut melanggar etika sebagai guru, mereka bisa dicap sebagai oknum yang tak bermoral, “Sangat disayangkan oknum guru yang melakukan tindakan kriminal terhadap murid, hal itu mencerminkan moral pendidikan yang tidak baik,” katanya.

Disisi lain Ismail menyarankan, hendaknya guru lebih memprioritaskan untuk mendalami dan menerapkan beberapa kompetensi. “Kompetensi pribadi juga harus ditonjolkan, mawas diri, menjaga sikap, perkataan, dan perbuatan, sehingga apa yang dilakukan dapat memberikan ketauladanan yang baik terhadap anak, bukan malah sebaliknya,” jelasnya.

TEKS : RIDIANSYAH
EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster