Merakit Karya di RRI

 357 total views,  2 views today

Palembang Art Festival yang digelar di Auditorium Gedung RRI sedari 23 hingga 25 November 2013.

Palembang Art Festival yang digelar di Auditorium Gedung RRI sedari 23 hingga 25 November 2013.

PALEMBANG KS-Tujuh perupa asal Sumatera Selatan memersembahkan karya terbaiknya. Sebentuk penyegaran kembali keragaman dan kebersamaan berkesenian di kota ini. Bersamping dengan lukisan, utusan 16 wakil kecamatan pun memeragakan teater di acara Palembang Art Festival yang digelar di Auditorium Gedung RRI sedari 23 hingga 25 November 2013.

“Pameran lukisan yang digarap DKP ini memang serius. Bila hari ini ada tujuh perupa, kita berharap ke depannya lebih banyak lagi perupa yang dirangkul untuk memamerkan karyanya,” demikian kata Marta Asra yang aktif di kepengurusan DKP, Ahad (24/11).

Refreshmentalia adalah tema yang diusung pada pameran ini. Karya-karya lukisan yang disuguhkan yakni merakit kebebasan sekaligus merayakan pluralisme. Tujuh perupa yang berpameran di kegiatan Palembang Art Festival yaitu Nurhayat Arif Permana, Andrie at Tawang, Usa Kishmada, Aan Gunawan, Edi Fahyuni, Eliza Dewi, dan Fajar Agustono.

“Anda bisa saksikan sendiri bagaimana ramainya orang-orang yang datang ke Auditorium RRI ini. Mereka nampak asyik menikmati semua lukisan tersebut,” cetus Marta.

Selanjutnya Marta Asra yang juga kurator lukisan ini berkata, salahsatu persoalan mendasar bagi perupa di provinsi ini adalah minimnya agenda berpameran dan wadah berkarya. Untuk itu, ia berharap perlu adanya kepedulian demi kelangsungan nasib perupa.

“Beberapa tahun lalu saya bersama Tavern Artwork pernah menggelar pameran tunggal karya lukisan perupa Eliza Dewi. Nah, saat itu Ibu Suzanna Edy Yusuf selaku ketua BKOW Sumsel cukup peduli. Dia siap membantu, jika mau berpameran lagi,” cerita Marta.

Pada pameran lukisan ini, Fajar Agustono—perupa yang karyanya ditampilkan di acara Palembang Art Festival berujar ketiga lukisannya bercerita soal simbol trilogi mental koruptor. Lukisannya pun memakai oil on canvas yang berukuran 100 x 100 centimeter.

“Kalau bisa acara semacam ini rutin digelar. Apalagi di kota ini jarang sekali ada pagelaran lukisan. Jujur, kita memang haus sekali berpameran,” pinta Fajar.
Sementara itu, Kamsul Arifuddin Harla juri lomba teater di Palembang Art Festival menyebutkan, potensi atau bakat generasi muda terhadap dunia teater cukup berlimpah.

“Luar biasa. Bakat-bakat senia teater saya lihat sangat berpotensi untuk bertumbuh. Juga, apa yang mereka tampilkan lumayan bagus,” puji Kamsul seraya berucap hendaknya pemerintah lebih peduli lagi untuk mengangkat bakat seni dan budaya.
Ada tiga macam kesenian di acara Palembang Art Festival yaitu seni teater, seni lukis, dan baca puisi. Tema dan topik yang dipilih ditentukan pihak DKP. Untuk juri teater yakni Amir Arga, Kamsul A Harla, Asril Chaniago. Lomba baca puisi yaitu Anwar Putra Bayu, Jaid Saidi, dan Nurhayat Arif Permana.

TEKS:RINALDI SYAHRIL
EDITOR:;RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster