Kekerasan, Mengangu Mental Anak

 184 total views,  2 views today

Ilst. Siswa

Ilst. Siswa

PALEMBANG | KS-Berdasarkan data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tingkat kekerasan terhadap anak dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada 2010 tercatat ada 2046 kasus, 2011 jumlah laporan meningkat menjadi 2059 kasus, 2012 meningkat lagi menjadi 2637 kasus dan pada 2013 periode Januari-Juni ada sekitar 1032 laporan.

Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Muhammad Muhsin seperti dilansir republika mengatakan, sedikitnya 87 persen anak-anak Indonesia merupakan korban kekerasan di sekolah. “87 persen anak-anak kita adalah korban kekerasan di sekolah, pelakunya meliputi seluruh warga di sekolah, bisa guru, tenaga pembantu, atau pun teman, sesama siswa,” ungkapnya.

Sementara untuk di Palembang, Ketua KPAI Palembang Adi Sangadi SH mengatakan, pihaknya banyak menerima laporan kasus kekerasan terhadap anak. “Tidak sedikit kita menerima laporan kekerasan yang dilakukan oleh guru terhadap anak, namun saya tidak dapat mengungkapkan jumlah pastinya,” ungkapnya.

Pakar psikolog Palembang Dra. Telly P. Siwizaidan, M.Si mengutarakan, kekerasan yang dilakukan kepada anak, bisa berupa pemukulan ataupun perkataan. “Kekerasan fisik misalnya pukulan, tamparan, tinjuan, dan lainnya. Bahkan perkataan yang sudah tidak layak didengar, misalnya cacian dan hinaan yang ditujukan pada anak, juga termasuk kekerasan,” ungkapnya, saat dihubungi Kabar Sumatera, kemarin (24/11).

Kekerasan yang dialami oleh anak kata Telly, akan menyebabkan gejala perubahan mental. “Tidak hanya fisik saja yang dirasakan sang anak, psikisnya pun juga terkena, bentuknya bisa berupa ketakutan, trauma mendalam, benci, minder, dan gejala lainnya,” katanya.

Ia menyarankan, jika anak sudah mengalami gejala tersebut, secepatnya orang tua ataupun guru melakukan tindakan. “Tidak ada salahnya minta maaf kepada anak, lakukan pendekatan persuasif, sentuh hatinya, orang tua ataupun guru jangan gengsi untuk melakukan ini, sayangi anak-anak, jangan melakukan hal yang membuat ia sengsara,” tukasnya, seraya menyebut jika hal tersebut tidak berpengaruh lebih baik dibawa kepada ahlinya dengan melakukan rehabilitasi.

Teks : Ridiansyah
EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster