Konversi Gas Hanya Omong Kosong

 416 total views,  2 views today

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Palembang.

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) Palembang.

PALEMBANG, KS–Rencana pemerintah mengkonversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) berjalan lamban. Pemerintah dianggap hanya melempar wacana karena kegagalannya pada tahun-tahun sebelumnya.

Di Palembang konversi BBM ke BBG untuk kendaraan dinas dan kendaraan umum, juga bernasib sama. Bahkan program ini, dinilai banyak kalangan hanya omong kosong. Program yang digadang-gadang sebagai alternatif mengatasi kelangkaan BBM dan mengurangi emisi kota dinilai gagal.

Di samping itu, proyek BBG di Kota Palembang sejak 2008 lalu pun terkesan amburadul. Tidak ada sistem kontrol, sosialisasi, tempat pengaduan masyarakat, standarisasi kualitas dan standard operating procedure (SOP) di SPBU. Demikian disampaikan Jayan Sentanuhady, Peneliti Mechanical dan Industrial Engineering Universitas Gadjah Mada.

Kata Jayan, Kota Palembang adalah salah satu kota yang gencar meproyeksikan percontohan konversi ke gas bahkan sudah bermula sejak 2008 lalu. Adapun upaya kerja pemerintah yaitu membagikan konverter kit ke 660 angkot dan 25 bus kota di Kota Palembang. Hanya saja, sayangnya usaha itu nampak menjadi sia-sia karena ketidakseriusan pemerintah menyiapkan segala keperluan yang ada.

“Silakan Anda lihat faktanya. Angkutan kota yang pakai converter kit di Kota Palembang kini tidak lebih dari 50 unit sampai 60 unit saja. Sementara bus hampir tidak ada lagi. Pertanyaan yang timbul cukup sederhana. Ini kenapa? Karena pemerintah cuma action, doang. Sistim kontrol, sosialisasi, tempat pengaduan, standarisasi kualitas dan SOP di SPBU serta bengkel yang akan merancang konversi tersebut nyaris tidak ada,” Jayan menyampaikan.

Menurutnya, hal ini yang membuat program itu bukan tambah maju, melainkan mundur. Bagaimana tidak, sopir tidak tahu kemana dia mengadu. Sementara tidak ada call center pengaduannya. Sosialisasi ke masyarakat pun dinilai minim, sehingga masyarakat yang ingin menggunakan angkot menjadi takut dan panik. Bahkan, tidak adanya bengkel khusus Compressed Natural Gas (CNG) yang bersertifikat menjadikan perbaikannya seperti dikira-kira saja.

“Saya pernah diundang oleh salah satu pemilik Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang mengeluh karena pengguna angkutan kota yang memakai gas jumlahnya kian lama kian merosot. Mereka meminta kami melakukan penelitian apa sebabnya kok jumlahnya turun. Setelah kami cermati, ternyata hasilnya mengejutkan dan menunujukan rasa ketidakpuasan masyarakat terhadap kebijakan ini,” jelasnya.

Bambang , pengamat Migas Sumsel kepada Kabar Sumatera menjelaskan konversi BBM ke bahan BBG merupakan solusi yang lebih tepat dibanding mengalihkan pengguna premium ke pertamax.

“Cara ini saya kira merupakan solusi yang sangat baik bagi pengguna kendaraan berbahan bakar pertamax. Untuk BBG, Pertamina mengusulkan harga Rp 4.100 per liter, sementara pertamax saat ini telah mencapai harga Rp 10.400. Artinya, akan jauh lebih meringankan pengguna pertamax ke BBG. Selain itu pemerintah juga akan menjamin potongan sebesar 50 persen bagi siapa saja yang berminat menggunakan CNG pada kendaraanya dan memberikan gratis kepada kendaraan umum,” ungkap Bambang.

Hanya saja, kata Bambang. Yang perlu di ingat dan di waspadai pemerintah adalah belum adanya standar kualitas BBG jenis CNG, sehingga dikhawatirkan dapat merusak mesin kendaraan yang beralih dari BBM ke BBG.

“Pasti, saya berani bertanding dengan siapapun, karena berbagai penelitian kami ke mesin kendaraan yang menggunakan CNG telah menurunkan performence mesin dan sangat bisa merusak mesin kendaraan,” katanya.

Dosen Universitas Sriwjaya ini pun menambahkan dari hasil penelitian pihaknya di setiap kendaraan yang menggunakan CNG terdapat 1 liter air yang hampir masuk ke dalam mesin.

“Bus Trans Jakarta misalnya, yang telah menggunakan CNG selama satu tahun . Setelah dibongkar mesinnya, ditemukan 1 satu liter air, ya entah sudah masuk atau belum ke dalam mesin, tapi teorinya apabila mesin sampai kemasukan air maka bisa dipastikan mesin kendaraan akan rentan dengan kerusakan ,” ungkap Bambang .

Bambang berujar, fakta ini terjadi karena kualitas CNG yang jelek di ikuti angka metan CNG sebesar 60 dan 70. Metan yang baik sesungguhnya mencapai 80 dan menghasilkan oktan 130. Ini yang harusnya dibenahi, karena masyarakat yang menggunakan tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menerima saja saat mesinnya diisi CNG tanpa tahu berapa jaminan kualitas CNG-nya.

Teks : Dicky Wahyudi
Editor : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster