Caleg Mulai Manfaatkan Jejaring Sosial

 245 total views,  2 views today

jejaring-sosial
PALEMBANG, KS-Berlakunya Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 13 tahun 2013, tentang Zonaisasi Kampanye membuat calon anggota legislatif (caleg), tidak bisa lagi bebas melakukan sosialisasi dengan menebar atribut kampanye seperti dulu.

Keterbatasan ini, membuat caleg mulai melirik dunia maya terutama jejaring sosial seperti facebook, twitter, friendster, kakaotalk, wechat untuk menggaet pemilih. Apalagi di jejering persahabatan tersebut, banyak digemari kalangan pelajar dan mahasiswa yang termasuk pemilih pemula.

Caleg DPRD Sumsel dari Partai Gerindra, Budiarto Marshul, tak menampik itu. Pria yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi II DPRD Sumsel tersebut menyebut, ia memanfaatkan dunia maya untuk mensosialisasikan visi, misi dan program kerjanya.

“Saya memiliki website, melalui website itu apa yang menjadi program saya sebagai caleg, bisa diakses masyarakat. Dengan cara ini, saya yakin bisa meraih dukungan dari masyarakat, terutama yang pemilih pemula seperti mahasiswa dan pelajar. Karena merekalah yang selama, sering memanfaatkan internet,” kata Budiarto yang dibincangi, Selasa (19/11) di DPRD Sumsel.

“Berkampanye menggunakan dunia maya ini, cara yang efektif. Selain itu, biayanya juga murah. Setiap bulan, saya hanya mengeluarkan biaya antara Rp2 juta sampai Rp3 juta. Itu karena, saya sendiri yang langsung mengelolanya,” terangnya.

Walau pun begitu menurut mantan Wakil Wali Kota Pagaralam ini, ia juga tidak melupakan cara-cara konvensional dalam melakukan sosialisasi. “Saya tetap terjun langsung ke masyarakat, termasuk memasang alat peraga. Saya yakin, masyarakat sudah semakin cerdas,” ucapnya.

Pendapat tak jauh berbeda disampaikan Siti Nurizka Puteri Jaya, caleg DPR RI dari Partai Gerindra. Ia mengaku, memanfaatkan berbagai fasilitas jejaring sosial, seperti facebook, dan twitter untuk mengaet pemilih terutama pemilih pemula.

“Jejaring sosial ini, cukup efektif untuk menjaring pemilih. Karena kita bisa berinteraksi langsung, dengan mereka. Apalagi saat ini, banyak kalangan yang menggunakan berbagai jejaring sosial tersebut,” ungkapnya.

Selain itu sambungnya, ia juga memiliki website. Di website tersebut kata Nurizka, ia menyampaikan semua aktivitas kegiatannya termasuk visi, misi dan program kerjanya jika terpilih sebagai wakil rakyat.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Andreas Leonardo mengatakan, jejaring sosial sangat efektif untuk meraup suara bagi caleg. Karena hampir 50 persen masyarakat Sumsel, sudah mengenal jejaring sosial atau dunia maya.

“Masyarakat Sumsel saat ini sudah melek teknologi, artinya caleg pun harusnya mengimbangi itu. Berkampanye melalui teknologi seperti ini, lebih efektif jika dibandingkan dengan cara-cara tradisional dengan menyebarkan alat peraga seperti spanduk, baleho dan lainnya,” ungkapnya.

Namun sambungnya, tidak semua kalangan yang mengakses jejaring sosial. Pemilih yang yang sering berselancar di dunia maya tersebut, umumnya adalah pemilih pemula dan pemilih yang berpendidikan dan tinggal di daerah perkotaan.

“Sementara pemilih yang tinggal di pedesaan, tidak memahami dan mengerti dengan kemajuan teknologi tersebut. Oleh karena itu, caleg juga harus tetap berkampanye menggunakan cara-cara konvensional, dan turun langsung untuk bersosialisasi dengan masyarakat,” tukasnya.

Teks : Dicky Wahyudi
Editor : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster