Napak Tilas Jurnalis Lahat

 294 total views,  2 views today

Pengrajin Bati di Kota Gede

Pengrajin Bati di Kota Gede

LAHAT KS-Eksekusi kegiatan studi tour wartawan se-Kabupaten Lahat yang tergabung dalam Media Center mulai digelar Ahad, (17/11).

Kali ini perjalanan studi tour yang baru pertamakalinya ini dirasakan seluruh jurnalis yang beroperasi di Lahat dimulai dengan berwisata ke Candi Prambanan dengan rute perjalanan melewati Kabupaten Sleman dan langsung menuju ke Candi Prambanan.

Gaet studi tour dan wisata bernama Sastro kepada jurnalis menceritakan bahwa  kegiatan wartawan ini akan berjalan menuju Prambanan. Dan, perjalanan menuju kesana pun butuh waktu 45 menit dengan melewati beberapa tempat situs sejarah yaitu situs Selokan Mataram yang dibangun sekitar 1925 silam.

Sebelum tiba di lokasi yang dituju, Sastro membahas seputar berdirinya Kota Yogyakarta. Di mana Yogyakarta ini berdiri sejak tahun 1745 silam. Pada setiap perjuangan rakyat Yogya diapresiasikan lewat patung maupun bentuk lainnya. Seperti patung yang ada di jalan Malioboro.

Waktunya tiba di Candi Prambanan. Para rombongan nampak aysik berfoto dan mengelilingi salah satu candi yang berada di Yogjakarta ini. Bahkan, di antara jurnalis ada yang memanfaatkan waktunya dengan berkenalan dengan para wisatawan lokal maupun asing.

Di lain sisi, ada juga anggota rombongan yang berusaha memasuki ruangan Candi Prambanan mulai dari yang kecil hingga berukuran besak. Butuh waktu tigam untuk samap ke sana. Selanjutnya rombongan jurnalis langsung menuju ke kerajinan perak yang berada di Kota Gede Yogyakarta.

Apa dinyana, sial pun datang. Sesampainya di kerajinan perak, hujan mengguyur daerah Kota Gede selama hampir sejam. Sehingga membuat seputaran kota ini banjir hingga setengah meter atau ukuran lutut orang dewasa.

Air hujan pun agaknya belum juga reda. Namun begitu, rombongan jurnalis pria  berupaya menghangatkan badannya dengan menghisap sebatang rokok.

Tak lama kemudian, Sastro pun mengajak rombongan menuju pengrajin batik patok. Nah, di sini rombongan pun dipersilakan membeli produk batik khas made Yogyakarta.

“Silakan kalau ada yang beli-beli batik. Di sinilah tempatnya,” Sastro pun menawarkan.

Adapun Supelman, jurnalis media Radar Nusantara biro Jakarta yang tergabung di Media Center berucap, perjalanan yang ia lewati amat menyenangkan. Apalagi selama ia termasuk jurnalis yang jarang berwisata ke tempat bersejarah.

“Ya, walaupun hari ini lagi musim hujan, namun aku sukup senang dengan kegiatan ini,” katanya.

Pun Jumra Zefri, jurnalis Harian Umum Kabar Sumatera sempat pula bertanya-tanya kepada penrajin batik yang ada di kota Gede tersebut. Nyonya Yulia (40), misalnya, yang berujar selama membuat batik ia hanya dibayar per hari dengan upah yang rendah.

“Paling setiap bulannya saya hanya bisa membuat 1 atu 2 helai kain yang ingin di batik. Meski upahnya rendah, tapi saya cukup betah kerja semacam ini,” uji Yulia mantap.

TEKS/FOTO:JUMRA ZEFRI

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster