Haruskan PHBS Sejak Dini?

 926 total views,  2 views today

phbs

MUSIRAWAS | KS-Penyebab penyakit terkadang berasal dari kurang bersihnya lingkungan maupun individu masyarakat. Ini dibuktikan survei Kemenkes bahwa lebih dari 80 persen anggaran yang digunakan untuk mengobati penyakit berasal dari penyakit yang tidak menular. Di mana penyebab penyakit ini disebabkan minimnya Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

PHBS mestinya harus diterapkan sejak dini pada dunia pendidikan khususnya pendidikan dasar. Penerapan PHBS di dunia pendidikan perlu dilaksanakan dengan intensif guna membentuk gaya hidup dan budaya bersih untuk menuju masyarakat Indonesia yang sehat.

Menyoal bagaimana PHBS terkini, Kepala SMP Negeri B Srikaton, Hendra Rihartono kepada Harian Umum Kabar Sumatera Sabtu (16/11) bertutur, untuk membentuk pola dan budaya bersih, mestinya dimulai sejak anak-anak. Karena itu, dunia pendidikan dasar bisa mengambil peran penting guna menanamkan dan membiasakan anak-anak menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Sehingga hal ini dapat mencegah dan memelihara diri dari berbagai penyakit yang dapat menyerang tubuh.

“Alhamdulillah, di sekolah ini telah diupayakan menanamkan budaya bersih bagi siswa dan siswi. Upaya yang kita lakukan dengan sosialisasi penerangan melalui upacara bendera setiap hari Senin dan pada berbagai kesempatan yang ada. Bahkan, mata pelajaran Olahraga dan Kesehatan, juga ada bahasan soal PHBS ini, tetapi sedikit, maka kurang maksimal jika semata mengandalkan guru bersangkutan,” Hendra Rihartono menyebutkan.

Di samping itu, kata Hendra, peran dari pihak di luar sekolah pun turut membantunya dalam menyampaikan pentingnya kebersihan guna mencegah dan menghindari penyakit yang bakal menyerang.

Pihak luar sekolah yang telah membantu kita diantaranya dari Dinas Kesehatan melalui Puskesmas, mereka disamping memberikan pengarahan dan penyuluhan juga memberikan obat seperti obat pening kepala, nyeri haid dan Obat untuk P3K.

Dari Pemerintah Setempat, seperti Kepala Desa pernah kami mintakan juga sumbangsihnya dalam masalah ini dan juga untuk koordinasi siswa karena kebanyakan disini adalah anak-anak dari masyarakat desa setempat,” kata Hendra Rihartono.

Untuk membiasakan hidup bersih, pihak Hendra selalu mengontrol dan memerhatikan para siswany. Misalnya, mulai dari kebersihan kuku, pakaian, termasuk kerapian rambut dan lainnya.

“Selain kebersihan diri, juga tak kalah penting kebersihan lingkungan, baik ruang kelas maupun halaman sekolah. Kami membiasakan siswa agar tidak membiarkan sampah berserakan dan dalam masalah ini peran guru piket sangat menentukan. Terkadang untuk memberikan hukuman bagi siswa yang bermasalah, kami menerapkan hukuman dengan membersihkan lingkungan,” ungkapnya.

Kepedulian Hendra dalam menggalakan hidup bersih tak pernah berhenti.  Soal jajanan siswa pun menjadi prioritasnya.

“Di sini ada kantin sekolah, maka kami pun selalu mengontrol jajanan termasuk kebersihannya dan bahan yang digunakan untuk membuat makanan. Takutnya kita kuatir ada jajanan yang dibuat dari bahan-bahan berbahaya,” katanya.

Al Muhajirin F Trikoyo, Kepala Sekolah Madrasah Aliyah yang didamping Waka Kesiswaan menyampaikan bagaimana realisasi PHBS di sekolahnya.

“Kebersihan WC sangat kita perhatikan untuk menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Di sekolah ini ada sebanyak 10 WC, untuk siswa putra sebanyak empat buah dan siswi enam buah. WC ini siap digunakan lebih dari 980 siswa di 25 kelas. Walau begitu, seringkali masalah WC banyak tidak diperhatikan pihak sekolah, karena mungkin dianggap sepele, tetapi bagi kami ini hal yang penting. Budaya bersih di suatu sekolah terkadang dapat dilihat dari kebersihan WC-nya,” ungkapnya.

TEKS/FOTO:FAISOL

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster