Bahaya Laten Korupsi

 258 total views,  2 views today

korupsi

Paska kerusuhan di Mahkamah Konstitusi (MK) memang makin banyak pertanyaan mengemuka di masyarakat. Apakah itu imbas dari tertangkapnya bekas Ketua MK Akil Mochtar.  Pertanyaan-pertanyaan itu  seperti benarkah kita selama ini sudah berupaya maksimal menanggulangi korupsi, sekurang-kurangnya dari akar penyebabnya yang berhubungan dengan menjalar dan menguatnya korupsi? Apakah penangkapan Ketua MK masih bagian dari ‘sampel kecil’ dari gunung es korupsi yang sebenarnya menggurita di negeri ini? Faktanya, tidak mudah mengerem laju penyebaran korupsi di negeri ini. Meski kita mengandalkan institusi semacam KPK KPK untuk menyeret koruptor, ternyata layaknya pepatah “mati satu tumbuh seribu”. Koruptor lainnya terus terproduksi dan bertebaran menampar wajah Indonesia sebagai negara hukum (rechstaat).

KPK saja tidak cukup untuk melawan dan apalagi menghentikan korupsi. Korupsi kian menjalar dan sudah mendarah daging dalam bangunan kehidupan masyarakat Indonesia. Antara daya laju modus operandi korupsi dengan modus operandi politik pemberantasan korupsi, masih lebih cepat dan ‘mapan’ menjalarnya korupsi daripada politik penanggulangannya.

Semasa hidup sosiolog kenamaan asal UGM, Loekman Soetrisno, bersuara lantang di hadapan peserta seminar bertajuk ‘Selamat Datang di Republik Drakula’ (Republic of Vampire). Peserta seminar tentu saja kaget, bagaimana mungkin di negeri yang dikenal mayoritas beragama Islam, label yang diberikan pada negara ini justru ‘republik’ para penghisap kekayaan ngara atau negerinya para penjarah APBN dan APBD, serta berbagai sumber daya negara lainnya.

Dalam konstruksi Republik Drakula, para pejabat yang mempunyai kedudukan tinggi berperan menghisap pejabat di bawahnya, dan seterusnya. Di republik ini, mereka punya kegemaran saling menghisap sampai masing-masing kehabisan darah segarnya, atau ada sebagian elite pejabat dan konco-konconya yang lebih gemuk dibandingkan lainnya karena sudah lebih banyak yang ‘dihisap’ dan lihai menguras dan menyedot sumber-sumber kekayaan negara. Kegemaran menghisap itu jelas layaknya watak drakula sejati, yang memang selalu haus akan darah segar yang digunakan untuk memenuhi hajatnya. Drakula tak memandang siapa status darah yang dihisap, apakah itu institusi polri, kejaksaan, kehakiman, MK, maupun barangkali KPK, tetapi hanya mempertimbangkan apakah dahaga dan kelaparannya bisa terpenuhi apa tidak. Di ranah drakula itu, yang penting kepuasannya terpenuhi, meski harus dengan menghancurkan martabat konstitusi, mengabaikan keselamatan nyawa orang lain dan melanggar hak asasi manusia. Kekayaan negara dijadikannya sebagai objek penghisapan secara sistematis. Mereka tidak mendengar peringatan Aristoteles yang sudah lama mengingatkan, “Semakin tinggi penghargaan manusia terhadap kekayaan, maka semakin rendahlah penghargaan manusia terhadap nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, dan kejujuran.” Kapankah tragedy bangsa ini akan berakhir? (Sarono P Sasmito)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster