Wajah Penghuni ‘Ampera’

 337 total views,  2 views today

Syarwani nampak sedang mengerjakan pesanan langganannya di bawah Jembatan Ampera, Jumat (15/11/2013).| Foto : Iwan Cheristian

Syarwani nampak sedang mengerjakan pesanan langganannya di bawah Jembatan Ampera, Jumat (15/11/2013).| Foto : Iwan Cheristian

Ia adalah seorang perantauan asal Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jika dihitung, dunia jahit-menjahit telah ia lakoni selama puluhan tahun. Adalah Syarwani yang kini masih eksis membidani usaha jahitan. Namun, kali ini ‘mangkal’ persis di bawah Jembatan Ampera—tak jauh dari pusat kota ini.

“Dulunyo aku bikin usaha jahit di rumah, namun sejak 1988 aku pindah di bawah Jembatan Ampera 7 Ulu ini,” Syarwani bercerita.

Tak gampang bagi lelaki 60 tahun ini untuk bisa memertahankan hidup dari jahitan. Namun begitu, Wani—begitu ia biasa disapa tidak ingin setengah-setengah melakoni usaha yang sedang ia rintis. Seiring berputarnya waktu, Wani pun tetap mengasah kemampuan dan skill agar jahitannya dapat berkembang.

“Penjahit yang ada di Bawah Jembatan Ampera ini tersisa paling sepuluh orang. Cuma bedanya aku orang yang duluan di sini,” kenang Wani yang kini bermukim di Jalan Garuda 2, Seberang Ulu, Palembang.

Pada 1980, ilmu dan pengalaman jahit-menjahit diperoleh Wani secara tak sengaja lewat dulur-nya yang berdomisili di kampungnya yakni Pedamaran. Tak lama kemudian berkat  tekad dan keyakinan yang kuat akhirnya Wani pun mempraktikan ilmu yang ia dapat.

“Juga aku sempat belajar dengan sepupu di kampung. Ya, saat itu masih pakai mesin jahitnya,” ucap Wani.

Banyak cara menebus angka pelanggan. Merasa roda usaha minim gairah, Wani pun menerima tawaran kance-nya untuk segera hijrah ke bawah jembatan Ampera. Tepat awal Januari 1988, Wani pun mulai ‘berkantor’ di bawah Jembatan Ampera.

“Enaknya di bawah Ampera ini orang banyak yang singgah. Letaknya pun cukup strategis. Itu yang membuat aku ikut pindah ke sini,” Wani menyebut alasan kepindahannya ke bawah Ampera.

Kini, 25 tahun sudah Wani mengayuh pundi-pundi rupiah di bawah Ampera. Hitam putih bisnisnya pun sepertinya kian bertumbuh seiring perkembangan zaman. Pun agaknya rupiah yang dihimpun Wani berlipat ganda saat Sabtu dan Ahad. Berapa totalnya? Jawab Wani, berkisar antara Rp 50.000 hingga Rp 60.000 per harinya.

“Logikanya, kalau banyak pelanggan tentu banyak pula uang yang aku peroleh. Iya, kan..?,” Wani balik bertanya.

Jembatan Ampera tak hanya meninggalkan sejarah panjang untuk rakyat di kota ini. Barangkali bagi orang seperti Wani, Ampera pun memberikan sebuah arti cerita yang istimewa khususnya untuk keluarganya. Di separuh hidupnya, bisnis yang dilakoni Wani bahkan telah mengubah nasib kehidupan lima anaknya.

“Aku bersyukur nian, anak aku yang ketiga sudah jadi sarjana,” cetus Wani bangga.

Sekalipun mesin jahit dan pelanggan bersilih ganti ataupun usang di telan waktu, namun prinsip hidup yang dianut oleh Wani tak akan goyah sampai kapanpun.

“Ya, untuk saat ini aku masih setia di bawah Ampera ini. Entah esok atau nanti, aku tak pernah memikirkannya,” Wani berkata yakin.

TEKS : AMINUDDIN

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster