Gawat ! Wabah Kaki Gajah Menyerang Kabupaten PALI.

 245 total views,  2 views today

Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten PALI dr Hj Eni Zatila MKM

Kepala Dinas Kesehatan, Kabupaten PALI dr Hj Eni Zatila MKM

PALI | KS — Mungkin sedikit saja yang mengetahui, salah satu ancaman nyata yang ada di Kabupaten PALI di bidang kesehatan adalah wabah kaki gajah. Sepintas penyakit ini adalah penyakit biasa. Namun bila melihat cara penularannya, penyakit ini tergolong berbahaya. Penularannya ternyata hanya melalui gigitan nyamuk.

Bila ada penderita digigit nyamuk dan nyamuk tersebut menggigit orang yang sehat, maka orang sehat itu bisa tertular penyakit kaki gajah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten PALI, saat ini sedikitnya 10 orang warga Kabupaten PALI sudah terjangkit penyakit filariasis atau kaki gajah ini.

Dengan jumlah 160.000 jiwa maka, Kabupaten PALI sudah berstatus endemik terhadap penyakit ini. Artinya penyakit ini sudah mewabah dan menjadi ancaman serius yang membutuhkan penanganan khusus.

Kesepuluh penderita itu berada di Kelurahan Talang Ubi Utara (satu orang penderita), Kelurahan Talang Ubi Selatan (1 orang penderita), Talang Ubi Barat (1 orang), Desa Sinar Dewa (1 orang), Karta Dewa (1 orang), Talang Bulang (1 orang), Tanah Abang (2 orang) dan Desa Babat (1 orang).

Dari data tersebut, artinya penyebarann penyakit ini sudah hampir merata keseluruh desa/kelurahan. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya ancaman penyakit ini bagi warga kabupaten PALI. Bila satu warga disuatu desa yang menderita penyakit ini digigit nyamuk, kemudian nyamuknya menggit warga lain. Tentunya akan jadi ancaman.

“Makanya dengan sepuluh penderita saja, kabupaten PALI dianggap endemik penyakit kaki gajah” ungkap dr Hj Eni Zatila MKM, kepala Dinas Kesehatan Kabupaten PALI kepada wartawan, Jumat (15/11).

Kabupaten PALI menjadi salah satu kabupaten dari 302 kabupaten/kota di Indonesia yang sudah dinyatakan berstatus endemik penyakit ini.

“Karena belum ada obatnya, yang bisa kita lakukan saat ini hanya memutus mata rantai cacing Filaria,” ungkap Eni yang pernah menjadi pimpinan Puskesmas Talang Ubi ini.

Menurutnya, langkah pemutusan mata rantai ini adalah dengan melakukan minum obat massal. “Untuk itu, Dinas Kesehatan berencana mencanangkan minum obat massal yang akan dibuka oleh bupati PALI tanggal 26 November mendatang,” tuturnya.

Setiap warga akan diwajibkan minum obat yang sudah disediakan pemerintah secara gratis. Petugas kesehatan akan mendatangi dusun-dusun dan RT/RW serta sekolah-sekolah.

Obat yang diberikan pun bukan dibagikan, tetapi wajib diminum warga dihadapan petugas. “Biar kita bisa memastikan obat tersebut diminum warga,” ujar Eni.

Hanya anak-anak dibawah umur 2 tahun, wanita hamil, penderita gangguan ginjal, penderita epilepsi, penderita filariosis, manula diatas 75 tahun dan penderita sakit berat saja dikecualikan dari pengobatan ini.

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster