Pagaralam Potensial Pengembangan Tanaman Salak

Buah Salak

Buah Salak

PAGARALAM, KS—Sejauh ini, pengembangan sektor tanaman holtikultura, salahsatunya buah-buahan tampaknya masih terkendala lahan. Mengingat ketebatasan atau ketersedian lahan yang ada di Kota Pagaralam, dinilai tidak memungkinkan lagi untuk dilakukan perluasan secara besar-besaran.

“Sementara di sisi lain, untuk  kesiapan para petani pun belum begitu memadai. Karena budidaya tanaman tersebut masih sebatas tanaman pekarangan,” kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kota Pagaralam Jumladi Jani SP melalui Kabid Holtikultura Yurdan SP, Kamis (14/11).

Menurutnya, untuk sentra tanaman baru mulai difokuskan untuk tanaman salak. Itupun areal perkebunan yang ada belum begitu banyak, seperti di kawasan Gunung Dempo ada sekitar 23 hektar yang merupakan tanaman telah menghasilkan (panen-red).

“Kemudian di wilayah Rimba Candi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Tengah, baru mulai dikembangkan seluas sekitar 26 hektar. Itupun baru berumur antara 1 – 2 tahun,” kata Yurdan seraya mengatakan, Pagaralam sendiri dijadikan sentra tanaman salak di Sumatera Selatan berkat dukungan kondisi iklimnya cocok.

Ia mengakui, cukup banyak jenis tanaman buah-buahan yang berpotensi untuk dikembangkan di sejumlah wilayah Kota Pagaralam. Namun, untuk pelaksanaannya sendiri sangat bergantung kepada letak ketinggian dan curah hujan. Seperti kawasan didataran tinggi, selain Salak termasuk pula Strowberi, Pepaya dan Pisang. Sementara untuk tanaman Mangga, Durian dan Jeruk berpotensi dan cocok dikembangkan di kawasan Dempo Selatan.

“Mayoritas budidaya tanaman buah-buahan di Pagaralam masih sebatas tanaman perkarangan, sebagiannya lagi menerapkan diversifikasi dengan tanaman lain di kebun milik mereka.  Smentara sentranya, baru Salak yang digarap serius lantaran peluang pasarnya cukup menjanjikan,” sebutnya.

Meski begitu, kata dia, dengan kendala lahan, hingga menjadikan progam yang hendak dicanangkan untuk pengembangan sentra tanaman buah-buahan selain Salak belum begitu optimal. “Sejauh ini, pengembangan tanaman Salak lebih didominasi suntikan bantuan bibit dari Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sumsel,” katanya.

Adapun data populasi tanaman buah-buahan dengan produksi pertahunnya, kata dia, diantaranya Salak 25.788 batang produksi tembus 302,24 ton, Alpukat 15.255 batang produksi 378,15 ton, Duku 115 batang 21,2 ton, Durian 18.063 batang produksi 96,4 ton, Jambu biji 719 batang produksi 250 ton, Mangga 9.153 batang produksi sebanyak 96 ton, Pepaya 6.471 batang produksi 1.480 ton, Pisang 11.561 batang produksi 393 ton.

 

Sementara itu, Endang, salah satu petani Salak yang berada di Gunung Dempo  mengatakan, adapun produksi Salak dari tahun ke tahun dinilai cukup baik, begitu pula dengan pangsa pasarnya jauh lebih baik.

“Sekarang kita tengah memperluas areal tanam, yang tak lain untuk meningkatkan produksi panen ke depannya,” kata dia seraya menyebutkan, adapun musim panen tanaman ini dilakukan sepanjang tahun.

Teks: Antoni Stefen

Editor : Junaedi Abdillah




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com