Dan…,Buruh Tak Pernah Mati

 405 total views,  2 views today

Di tengah cahaya matahari tak mematahkan semangat buruh angkut untuk berburu rupiah.

Di tengah cahaya matahari tak mematahkan semangat buruh angkut untuk berburu rupiah.

PALEMBANG | KS-Berpuluh-puluh tahun jadi buruh angkut di Pasar Sekanak tak membuat ia menyerah begitu saja. Sekalipun keringatnya bertebaran di tubuhnya yang kekar, namun tak membuatnya surut dari nasib.

Wajah-wajah ceria tampak di raut lelaki berusia 39 tahun ini di Pasar Sekanak. Mereka adalah para buruh angkut biji kelapa yang telah berpuluh tahun lamanya.

Postur tubuhnya memang sedikit kekar, dan tinggi badan yang tak lebih dari 165 meter, tak membuat Alan patah semangat. Meski usianya beranjak kepala tiga, namun Alan mengaku masih sanggup mengangkut beban hingga 100 kilo setiap harinya.

“Ya ini demi anak dan istri di rumah, aku harus lakukan itu. Dulu dan sekarang aku masih bisa mengangkut 100 kilo,” cetus Alan.

Alan yang keseharianya tinggal di Dusun II Desa Soak Batok Palembang 26 Ilir, bersama istri dan anaknya, tak tahu kapan akan berhenti bekerja sebagai burung angkut.

Cucuran keringat di badan tak pernah dihiraukan Alan. Dengan badan agak membungkuk, Alan pun berjalan tertatih menaiki puluhan anak tangga ponton atau tongkang menuju ke dalam mobil angkut.

Tak jauh dari Alan ada buruh lainnya bernama Lukman. Kuli angkut kelapa ini sudah sepuluh lebih menjadi buruh. Demi keluarga, Lukman pun nyaris siang dan malam bertualang dengan biji-biji kelapa yang tiba di dermaga Pasar Sekanak.

“Jujur, aku tak kenal lelah kerja sebagai buruh ini,” cetus suami dari  Komaria (38) ini.

Lantas, bagaimana dengan upah? Lukman pun menjawab, soal upah kadang tak menentu. Bergantung dari pemilik tongkang berapa mau membayarnya.

“Sehari tidak tentu dapat berap. Biasanya kalau sepi cuma Rp 20.000. Jika kelapa sedang banyak ya…bisa Rp 40.000,” Lukman berkata.

Malang tak dapat dielak. Pun begitu juga dengan Lukman. Persisnya tahun 2001, ia pernah tercampak ke sungai akibat tergelincir membawa biji kelapa.

Yo, cakmano lagi, cuma buruh yang biso aku kerjakan,” kata Lukman pasrah sambil berlalu.

TEKS:AMINUDDIN

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster