Sopir Batubara Menjerit Pungli Meraja Lela

 267 total views,  2 views today

Truk Pengangkut Batubara

Truk Pengangkut Batubara

Prabumulih, KS-Sekarang ini hasil pertambangan sangat melimpah di Provinsi Sumatera Selatan khususnya tambang batubara, tapi hal itupun menjadi dilematis bagi yang mempunyai tambang, masyarakat dan sang pengangkut (sopir), namun semuanya itu harus disikapi dengan kepala dingin dan berpikir dengan bijak karena kalau tiidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dilapangan seperti ketidak sukaan masyarakat adanya angkutan batubara melintasi daerahnya sedangkan para pemilik tambang juga harus melewati jalan Negara yang memang diperuntukkan untuk dilintasi oleh seluruh warga Negara Republik Indonesia dan yang paling merana adalah para pengangkut batubara (sopir) karena selama diperjalanan untuk menuju tempat yang diharapkan para pemilik batubara selalu mendapat gangguan dari warga yang selama diperjalanan meminta uang sebagai kompensasi melintasi daerah mereka.

Dari ketidak sukaan warga terhadap angkutan batubara itu, Kabar Sumatera mengadakan investigasi kelapangan dengan memantau kebenaran bahwa setiap sopir yang mengangkut batubara selalu dimintai duit (pungli) agar bisa melewati jalan Negara yang mengangkut batubara dan Kabar Sumatera mendapati mulai dari Muara Enim hingga Prabumulih ada sekitar kurang lebih 50 titik sopir angkutan ini dimintai duit dan kalau tidak mobil angkutan batubara akan dilempar pakai batu agar kaca mobil pecah.

Berdasarkan pantauan Kabar Sumatera dilapangan bahwa banyak para sopir dimintai duit dan sempat mengkonfirmasi dengan sopir angkutan batubara dan mereka selalu mengeluh dengan banyaknya para warga meminta duit dan para sopir mengatakan seperti yang dikatakan oleh Darwin kepada Kabar Sumatera kami para sopir ini serba salah kalau tidak diberi uang kaca mobil kami dilempar, coba bayangkan kami mempunyai keluarga yang perlu dihidupi sedangkan kami setiap mengangkut batubara selau diberi duit jalan sebesar Rp 750.000,- s/d Rp 1 juta disitulah segalanya baik minyak dan duit makan dan kalau dimintai duit sepanjang perjalanan sampai ke Palembang berpa lagi kami pak membawa duit ke rumah apakah mencukupi untuk menghidupi anak isteri kami dan kami sebagai Negara RI juga mempunyai hak hidup dan kalau kami tidak bekerja anak istri kami mau makan apa, apalgi sekarang ini mencari pekerjaan sangat sulit jadi tolonglah kami orang kecil ini agar jangan terlalu banyak pungli dijalanan dan kalau perlu agar para warga langsung saja meminta duit kepada para pemilik tambang karena merekalah yang menyuruh kami untuk mengangkut batubara ini, dan dulu kami para angkutan batubara ini pernah distop tidak boleh melewati jalan Negara ini dan kami harus memutar balek kembali kearah Muara Enim dan kami sebagai sopir tidak bisa berbuat apa-apa, ujar Darwin kepada Kabar Sumatera.

Memang apa yang dikatakan oleh Darwin itu memang benar adanya, dan bahwa setiap warga Negara Republik Indonesia berhak untuk untuk hidup seperti yang diatur didalam UUD 1945 bahwa setiap warga Negara berhak untuk hidup, namun sepertinya hal ini tidak berlaku bagi sang sopir angkutan batubara karena penghasilan yang mereka terima tidak sesuai dengan tenaga yang mereka keluarkan karena penghasilan yang mereka terima untuk mengangkut batubara ini sudah banyak diminta oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab di sepanjang perjalanan dan hasil yang mereka terima tentu sudah berkurang untuk dibawa pulang kerumah, jadi apakah hal ini bisa dibiarkan dan apakah ini suatu pembiaran serta apakah tidak ada altenatif lain untuk menghentikan pungutan liar yang terjadi disepanjang jalan angkutan batubara ini  dan sampai kapan ini berlangsung ?.

Teks : Irsan Matondang





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster