Rawa-Rawa Kian Hilang

 300 total views,  2 views today

Seorang anak Kecil sedang melintasi jembatan diatas Rawa Rawa | Bagus KS

Beberapa anak Kecil sedang melintasi jembatan diatas Rawa Rawa | Bagus KS

PALEMBANG, KS –   Bak gadis cantik,  Palembang kini menjadi salah satu kota tujuan investasi di Indonesia.  Namun Pembangunan itu, tak jarang harus mengorbankan rawa-rawan yang menjadi daerah resapan air

Data yang dihimpun Kabar Sumatera, luas rawa-rawa di Sumsel kian menyusut.  Perlindungan yang dilakukan agar tidak terjadi alih fungsi, sifatnya masih diatas kertas. Pemprov Sumsel, sampai saat ini tidak memiliki peraturan daerah (Perda) untuk melindungi rawa-rawa beralih fungsi.

Sementara Pemkot Palembang memiliki Perda Nomor  5 tahun 2008 tentang Pembinaan dan Retribusi Pengendalian dan Pemanfaatan Rawa yang diperbarui menjadi Perda Nomor 11 tahun 2012.  Namun perda itu pun, masih menjadi macan ompong. Terbaru, adanya rencana pemprov bersama REI yang akan membangun kota baru seluas 250 hektar di Jakabaring.

Alih fungsi rawa-rawa di Sumsel khususnya Kota Palembang, bukanlah yang pertama.  Reklamasi kawasan rawa-rawa yang menjadi daerah resapan air besar-besaran,  pertama kali dilakukan Gubernur Sumsel, H Ramli Hasan Basri pada 1991 lalu.  Saat itu ribuan hektar rawa-rawa di Jakabaring, ditimbun.

Di era pemerintahan Gubernur Sumsel, Rosihan Arsyad, kawasan Jakabaring disulap menjadi venues olahraga untuk pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI, 2004.  Ditahun yang sama 21 hektar rawa-rawa, ditimbun dan kini berdiri kompleks Palembang Trade Center (PTC).

Di 2011, giliran Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin yang menyulap 700 hektar kawasan rawa-rawa di Jakabaring menjadi kawasan Sport City. Diatas lahan seluas 700 hektar, berdiri venues yang menjadi arena pertandingan SEA Games, 2011 lalu.   “Luas rawa-rawa di Palembang, terus menyusut. Ratusan kilometer persegi, rawa-rawa di Palembang menjadi daratan,” kata Ketua Wahana Bumi Hijau, Aidil Fitri.

Padahal menurut Bambang Wicaksono, mahasiswa program Magister Teknik Universitas Indonesia (UI), dalam tesis yang disusunnya menyebut kawasan Seberang Ulu (SU), dengan tofografi rendah yakni berada dirata-rata 4-5 meter dibawah permukaan sungai. Kondisi ini menyebabkan 70 persen kawasan SU atau 125,9 kilometer persegi kawasan SU, adalah kawasan rawa-rawa atau pasang surut. Sedangkan Seberang Ilir (SI), kondisinya lebih tinggi yakni 12 meter diatas permukaan laut.

Kian menyusutnya rawa-rawa di Palembang, menurut  Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Sumsel menjadi salah satu penyebab kenapa banjir tidak pernah bisa diatasi di Palembang.  Kepala Divisi Lingkungan Hidup Walhi Sumsel, Hadi Jatmiko membeberkan dari  200 kilometer luas rawa-rawa di Palembang atau setengah dari luas wilayah Palembang yang mencapai 400,061 kilometer persegi, saat ini luas rawa-rawa tinggal 25-30  persennya saja.

“Sekitar 105 kilometer rawa-rawa di Palembang, hilang akibat alih fungsi rawa yang dijadikan perumahan, perkantoran, dan pergudangan oleh pihak swasta ataupun pemerintah,” tukasnya.

Teks                 : Dicky Wahyudi

Editor              : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster