Produksi Padi di Banyuasin Terancam Menurun

 283 total views,  2 views today

Ilst. Petani

Ilst. Petani

BANYUASIN I KS-Produksi  padi di  Kecamatan Air Saleh Kabupaten Banyuasin pada musim tanam kali ini terancam tak bisa maksimal, pasalnya saat ini para petani di daerah tersebut yang merupakan salah satu penghasil beras di  Banyuasin sedang kesusahan mendapat pupuk, sementara saat ini padi mereka sudah beusia 1 bulan dan sangat memerlukan pemupukan

Herman (42) petani Desa Salek Agung Kecamatan Air Saleh mengatakan bahwa jika normal padi mereka diberikan pupuk secara berkala, per hectare sawah yang ditanami padi akan berproduksi sekitar 6 hingga 7 ton beras. Namun jika tidak dilakukan pemupukan berkala maka hasilnya tidak akan maksimal.

Dikatakanya bahwa untuk saat ini mereka kesulitan mendapatkan pupuk “kelangkaan pupuk urea subsidi ini sudah berlangsung sejak lama, jauh sebelum memasukinya musim tanam tahun ini. Meski saat ini harga pupuk subsidi Rp 125.000/sak (ukuran 50 Kg,red),namun sayangnya pupuknya tidak ada sama sekali”ungkapnya Senin (11/11) kemarin

Menurutnya biasanya, pupuk urea subsidi sampai ke desanya Rp 95.000/sak-nya. Tapi saat ini tidak ada sama sekali, “ada harganya tapi barangnya tidak ada. Padahal, petani disini akan membeli pupuk, semahal apapun, kalau pupuknya ada. Tapi ini tidak ada. Sehingga Kami sangat kebingungan. Mengatasi masalah ini” keluhnya,.

Senada dikatakan Laksono (28), petani Desa Sri Katon, menurut dia kelangkaan pupuk bersubdisi ini bukan hanya terjadi di Desa Salek Agung saja, melainkan hampir di seluruh desa dalam Kecamatan Air Saleh. Untuk saat ini, dirinya dan petani lainnya terpaksa menanam padi tanpa diberikan pupuk.

“Usia padinya sudah 1 bulan, dan selama itu belum diberikan pupuk. Padahal, sudah harus dipupuk agar pertumbuhannya subur dan bisa menghasilkan padi yang maksimal. Kami takutkan, produksi padi tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Bisa-bisa turun hingga 5 ton saja,” ucapnya khawatir.

Dia berharap agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuasin dapat segera menyikapi hal ini. Karena kondisi kelangkaan pupuk ini bukan hanya terjadi tahun ini saja. Melainkan sudah menjadi kebiasaan tiap awal musim tanam. Namun, saat musim tanam berlalu, pupuk berhamburan.

“Kalau sudah memasuki panen, ya kita tidak lagi membutuhkan pupuk. Cobalah pemerintah turun langsung ke desa, melihat kondisi kelangkaan itu. Jangan hanya menerima laporan di atas meja saja. Tanpa melihat secara langsung kondisinya bagaimana. Paling tidak, pupuk itu selalu tersedia, disaat kita membutuhkan. Sekarang ini, pupuk di tingkat pengecer pun tidak ada,” tukasnya.

Teks: Diding Karnadi

Editor: Sarono P Sasmito





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster