Tak Semua Sampah Terangkut

 332 total views,  2 views today

Sampah

Ilustrasi Tempat Pembuangan Akhir | Bagus Park

PALEMBANG, KS-Setiap tahun, produksi sampah di Kota Palembang terus bertambah. Namun ini, tidak diiringi dengan bertambahnya jumlah armada pengangkut sampah di Dinas Kebersihan Kota (DKK) Palembang.

Akibatnya menurut Kepala DKK Palembang, Agoeng Noegroho, banyak sampah yang tidak bisa terangkut setiap harinya.  “Jumlah armada yang kita miliki, tidak sebanding dengan jumlah bak sampah dan tempat pembuangan sementara (TPS). Sehingga banyak sampah, yang tidak bisa terangkut,” keluh Agoeng ketika dibincangi, Jumat (8/11).

Ia menjelaskan, saat ini DKK hanya memiliki 95 unit truk sampah. Padahal idealnya, DKK memiliki sekitar 200 unit dump truk.  Karenanya sebut Agoeng, DKK akan mengusulkan penambahan jumlah truk untuk pengangkut sampah ini kepada Pemerintah Kota (pemkot) Palembang di tahun anggaran 2014.  “Kami akan ajukan tambahan 15 unit, truk yang ada sekarang kan masih kurang. Minimal 200 unit. Biasanya memang setiap tahun ada bantuan tambahan truk dari pemkot,”imbuhnya.

Tak hanya jumlah armada yang berkurang, kondisi truk pengangkut sampah milik DKK pun sebutnya, tidak semua dalam kondisi bisa dipakai. Sehingga kondisi ini, menyulitkan DKK untuk mengangkut seluruh sampah yang ada di metropolis ke tempat pembuangan akhir (TPA).

“Dengan adanya penambahan unit truk tersebut, kami berharap tidak ada lagi sampah yang tidak terangkut. Untuk sekarang , petugas DKK kesulitan karena tidak seimbang antara volume sampah dan truk pengangkut,” bebernya.

Ia menerangkan, volume sampah per hari di kota empek-empek ini mencapai 600 ton. Hal itu akan terus bertambah, seiring dengan pertumbuhan penduduk. Peningkatan volume sampah itu lanjutnya, juga karena pola hidup masyarakat yang konsumtif.  “Secara teoritis, setiap penduduk menghasilkan sekitar 0.8 liter sampah per hari,”imbuhnya.

Agar sampah-sampah tersebut tidak bertumpuk, petugas DKK setiap harinya baik subuh, pagi, siang maupun malam hari mengangkut sampah tersebut dengan armada yang dimiliki walau pun semuanya belum terangkut.

Sebelumnya,  Ketua Tim Penggerak PKK Sumsel, Hj Eliza Alex Noerdin menyebut, sekitar 70 persen produksi sampah di Palembang, berasal dari sampah rumah tangga dan pasar yang merupakan sampah organik. “Sebanyak 30 persen lagi, merupakan sampah anorganik yang dihasilkan dari kegiatan perkantoran dan industri, seperti kertas, plastik, dan lain-lain,” sebut Eliza.

Menurutnya, untuk mengurangi tumpukan sampah tersebut maka kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan harus dibangun. Selain itu, paradigma masyarakat yang menganggap sampah adalah barang sisa yang tidak berguna harus dirubah.

Sebab sampah bebernya, bisa diolah menjadi barang yang bernilai ekonomis.  “Caranya, dengan memanfaatkan sistem reduce (mengurangi), reuse (memakai kembali), dan recycle (mendaur ulang), seperti diamanatkan dalam Undang-Undang (UU) No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah,” tukasnya.

Teks     : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster