Potret Buram Wajah PNS

 500 total views,  2 views today

pns

Menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil), bagi sebagian orang Indonesia adalah sebuah dambaan, meskipun bagi sebagian lagi yang lain mungkin keengganan. Menjadi dambaan banyak orang sehingga antrean pengambil formulir pendaftaran CPNS selalu membludak setiap tahun. Orang merelakan apapun yang dia miliki untuk menjadi seorang PNS, baik uang ratusan juta rupiah, harga diri dan lain sebagainya.

Meskipun sudah ada upaya dari pemerintah untuk memperbaiki masalah rekrutmen PNS, baik melalui hukuman dan perbaikan sistem, tapi tetap saja masalah sogok, suap, atau apalah namanya adalah fakta yang terjadi di masyarakat. Bahkan tadi malam, di hand phone sejumlah wartawan di Palembang, dikabarkan ada pemberhentian tenaga honorer 2004/2005 (K2) di Pemerintah Kota Palembang dengan alasan jumlahnya sudah tidak rasional. Dalam pesan singkat itu diduga adanya permainan sejumlah pejabat di Pemerintah Kota Palembang, yang sednag ingin “menjual” PNS kle sejumlah calon PNS yang baru saja mengikuti ujian.

Kabar ini sudah tentu mengejutkan. Sebab puluhan tenaga honorer yang sudah bersusah payah dan bertahan demi menjadi PNS perjuanganya menjadi sia-sia. Kenapa ini terjadi? Lagi-lagi persoalan uang yang melatari. Adanya dugaan kewajiban setoran sebesar Rp150-200 juta ke Badan Kepegawaian Negara (BKN) berkisar antara Rp150-200 juta, menambah luka bagi bangsa ini. Moral apalagi yang akan ditawarkan jika ternyata sejumlah pejabat negara sudah ‘mengemis’ setoran dari para CPNS?

Dari beberapa investigasi yang Kabar Sumatera lakukan, ada yang unik tetapi juga ironis. Sebab di tengah berhamburnya orang ingin menjadi PNS, justru ada di antara PNS yang telah bekerja, mengaku jujur kalau dirinya sudah penat dan bosan dengan kehidupannya sebagai PNS.

Hal ini barangkali tak disetujui oleh sesama PNS yang lain. Sebab diantara mereka ada yang masih menikmati posisi itu. Mereka yang mengaku penat itu karena behavior, sistem dan birokrasi di dalam institusi pemerintah cenderung tidak dinamis dan kreatif.

Adanya kondisi tersebut mudah-mudahan menjadi gambaran sehingga tidak ada lagi orang yang salah jalan menempuh jalan terjal dan mendaki menjadi PNS, padahal itu sebenarnya tidak cocok untuk dirinya. Sesungguhnya PNS tidak cocok untuk orang-orang yang ingin melakukan perubahan, perbaikan, membuat inovasi baru dan berharap itu akan terimplementasikan dalam waktu cepat.

Sejatinya, saat ini yang perlu ditumbuhkan justru orang-orang yang memiliki jiwa enterpreneur dan selalu melihat segala peluang sebagai peluang yang kemungkinan bisa menjadi bisnis. Ketika jiwa enterpreneur ini diimplementasikan di tempat yang tepat hasilnya akan positif, tetapi apabila diimplementasikan di institusi pemerintah tempat bekerja, bisa jadi sumber korupsi yang maha dahsyat dan mengerikan.

Seharusnya kita yakin sebagai anak bangsa, apapun posisi kita ada di dalam maupun di luar institusi pemerintah, kita ingin dan sama-sama berjuang membuat republik kita ini lebih baik, lebih maju, lebih sejahtera dan disegani bangsa-bangsa lain. Di sisi lain kita berharap masih ada “PNS-PNS lurus” yang siap melakukan perbaikan di negeri ini. Mari kita melakukan perbaikan semampu kita, baik dengan lisan, hati maupun dengan tangan. Dan jangan lupa untuk mensyukuri segala nikmat dan keadaan yang sudah Allah berikan kepada kita.

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster