Warga Hadang Pengeboran KSO PT BBP

 324 total views,  2 views today

Sekitar 40 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melakukan penyetopan operasional alat berat yang sedang melakukan land clearing perusahaan.

Sekitar 40 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melakukan penyetopan operasional alat berat yang sedang melakukan land clearing perusahaan.

PALI | KS-Rencana PT Benakat Barat Petroleum (BBP) Kerja Sama Operasi (KSO) PT Pertamina EP untuk melakukan pengeboran minyak di Desa Sungai Baung Kecamatan  Talang Ubi Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) menuai masalah.

Sekitar 40 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) melakukan penyetopan operasional alat berat yang sedang melakukan land clearing perusahaan. “Kita menyetop karena lahan tersebut merupakan milik Jonedi warga kami,” kata M Yakup, Juru Bicara AMAN.

Warga yang berasal dari Desa Sungai Baung Kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI dan Desa Padang Bindu Kecamatan Benakat Kabupaten Muara Enim menghentikan beberapa alat berat yang berada di lokasi.

Menurut Yakup, lahan tersebut merupakan lahan milik Jonedi warga desa Padang Bindu Kecamatan Benakat yang dibuktikan surat keterangan pasirah M Yusuf Ismail yang dibuat tahun 1969 dan dikuatkan lagi dengan Surat Camat Gunung Megang pada tahun 1976. Namun surat tersebut  tidak diakui oleh PT BBP. Justru PT BBP membayar kepada Fathoni dan Rohim, yang tidak ada hubungannya sama sekali.

“Sangat lucu, Jonedi sebagai pemilik yang sah, tapi PT BBP justru membayar dengan orangg lain,” terang Yakup.

Menurut Yakup, PT BBP telah melakukan pembayaran kepada Rohim senilai Rp 205juta dan Fathoni senilai

Rp200juta dan dua warga lagi senilai Rp 45juta. Padahal keempat warga itu hanya petani biasa yang juga turut  menyerobot lahan milik Jonedi.

Kejadian ini, sambung Yakup, bermula pada tahun 1990, ketika PT Musi Hutan Persada (MHP) melakukan penyerobotan lahan milik Jonedi. Pada tahun 2010, lahan tersebut dikuasai oleh Rohim dan Fathoni yang kemudian menanaminya dengan pohon karet.

Karena pohon karet di situ ditanam oleh Fathoni dan Rohim,  lantas PT BBP melakukan pembayaran.  Tanpa menghiraukan komplain dari Jonedi. “Kami sudah peringatkan kepada PT BBP agar menunda pembayaran, tapi mereka tetap ngotot. Karena itu, kami melakukan penyetopan,” terang Yakup.

Kini, masyarakat tetap berjaga-jaga agar PT BBP tidak melanjutkan penggusuran. “Meskipun perusahaan itu dikawal aparat polisi yang menggunakan senjata laras panjang, kami tidak takut” tegas Yakup

Sementara itu, saat dihubungi di kantornya Humas PT BBP Ferdinan mengaku tidak lagi sebagai humas. Ferdinan menyarankan untuk menghubungi staf lain.

Namun saat ditemui dua staf yang mengaku sebagai bagian keuangan dan bagian SDM menjawab tidak berani memberikan statement apapun.  “Takut salah pak,” ujar salah satu staf keuangan. Padahal kepada wartawan yang menemuinya kemarin di kantornya, keduanya sempat panjang lebar nenjelaskan apa yang ditanyakan wartawan. Cuma enggan disebut nama. Mereka lempar agar orang lain saja (bagian lain) yang berwenang memberikan penjelasan.

Teks/foto: Indra Setia Haris

Editor: Sarono P Sasmito





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster