Meranalah Tukang Becak di ISG

19 total views, 3 views today

Ilst Becak | Bagus KS

Ilst Becak | Bagus KS

PALEMBANG | KS-Hingga hari ke lima pelaksanaan Solidarity Games (ISG) di Kota Palembang nyaris tak terdengar ingar-bingarnya. Venue-venue sepi penonton yang menyebabkan  para penarik becak pun kesulitan mendapatkan penumpang.  Walhasil, meranalah si pengayuh becak.

Dari informasi yang dihimpun Harian Umum Kabar Sumatera, sampai hari ke-5 penyelenggaraan ISG, tak banyak kerumunan penonton di arena pertandingan termasuk Gelora Bumi Sriwijaya. Justru penonton yang hilir mudik kebanyakan para pelajar yang memang digratiskan dan dikerahkan untuk menonton pertandingan-pertandingan ISG.

Dengan keadaan Sepinya penonton dan rendahnya animo masyarakat untuk mengikuti ISG dirasakan pula oleh penarik-penarik becak yang mangkal di pintu masuk Jakabaring. Untuk mendapatkan penumpang yang memerlukan jasa antara ke venue, susahnya minta ampun.

Keberadaan para tukang becak itu di kawasan Jakabaring Sport Center bukan cerita baru. Mereka sudah menjadi salah satu alat transportasi utama ketika SEA Games 2011 juga dihajat di ibukota Sumatera Selatan itu. Bahkan kala itu jasa mereka gratis khusus untuk para pemilik ID, seperti atlet, ofisial, dan wartawan peliput.

Walaupun untuk perhelatan kali ini mereka tidak digaji  dan diberikan kesempatan mangkal di kawasan jakabaring .mereka hanya  diberikan seragam khusus bertuliskan event dan logo ISG, plus memakai tanda pengenal khusus, para penarik becak itu dapat keluar-masuk kawasan Jakabaring untuk mencari penumpang. Masalahnya, penumpang yang dicari sulit didapat karena memang sepi pengunjung.

“Rencana awal kami akan digaji saat perhelatan ISG seperti Sea Games kemarin, namun keputusan berubah   kami tidak digaji,  cuma diperbolehkan cari penumpang. Kami mencari uang sendiri, mencari penumpang sendiri,” cerita Umar Akip, pembawa becak di kawasan Jakabaring Palembang, Jumat (27/9).

Alih-alih  untuk mencari rezeki, Umar hanya mampu medapatkan dua penumpang dalam satu hari. Itupun pelangannya adalah panitia lokal, yang kasian melihatnya mangakal di komplek JSC (Jakabaring Sport City).

Sudah hampir setengah hari baru dapat dua pelanggan. Padahal  dirinya sudah stand by sejak pukul 08.00 pagi. Imbasnya, uang penghasilan yang diharapkan bisa lebih banyak lewat ajang ISG itu ternyata hanya mimpi belaka. Sebab, Umar beserta rekan tukang becak lainnya hanya sanggup meraup uang kurang dari Rp 45.000 per harinya.

“Aku di sini dari pagi hari. Ya, soal penghasilan aku tak seberapalah,” cetusnya dengan pasrah.

Senada dengan Umar, Herman yang seharinya berprofesi sebagai tukang becak menyampaikan, dengan Kondisi JSC yang sepi ini membuatnya harus lebih sering mondar-mandir di dalam atau luar stadion Jakabaring demi berburu penumpang.

“Beginilah sehar-harinya. Harus bolak-balik cari penumpang. Di dalam juga banyak penarik becak lainnya mereka juga sama masih menunggu,” katanya.

TEKS:JADID ULUL ALBAB

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com