BKKBN Sumsel Gelar Pelayanan MKJP

 371 total views,  2 views today

bkkbn

PALEMBANG I KS-Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional  (BKKBN) Sumatera Selatan menggelar “Gerakan Pelayanan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang” berupa pemasangan implan dan “intra uterine device” secara gratis di 15 kabupaten/kota, mulai 23-26 September 2013.

“Pelayanan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) ini dilakukan secara serentak di Indonesia untuk memperingati Hari Kontrasepsi Se-dunia 2013, dan Sumsel sendiri menyelenggarakan di semua kabupaten/kota,” kata Kepala Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Selatan Sri Rahayu di Palembang, Rabu (25/9) kemarin.

Ia mengemukakan, pelayanan MKJP berupa pemasangan alat kontrasepsi jenis IUD (berfungsi hingga 10 tahun) dan implan (berfungsi selama 3 tahun) ini dapat diakses masyarakat secara gratis di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan statis seperti, bidan swasta dan pemerintah, rumah sakit pemerintah dan swasta, serta Puskesmas.

Sementara, khusus di Kota Palembang diselenggarakan di tempat praktik “Bidan Rini” kawasan Talang Kelapa, “Bidan Mega” di kawasan Kemuning, “Bidang Rahmi di kawasan Tangga Buntung, dan “Bidan Nur Rahmi” di kawasan Plaju.

Pada hari pertama pelaksanaan, pihaknya mencatat sebanyak 24 orang memakai alat kontrasepsi IUD dan 44 orang menggunakan implant.

“Antusias para ibu terbilang cukup baik dalam memanfaatkan momentum gerakan pelayanan MKJP ini, karena sebelumnya telah dilakukan sosialisasi dengan melibatkan Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana, dan Ikatan Bidan Indonesia, SKPD KB dan Dinas Kesehatan di kabupaten/kota” ujarnya.

Ia menambahkan, capaian pelaksanaan gerakan pelayanan MKJP gratis ini akan dilaporkan secara resmi kepada pemerintah pusat, mengingat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan membacakan dalam sambutan peringatan Hari Kontrasepsi Se-dunia di Balai Sidang Jakarta, 26 September 2013.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden akan di dampingi Menko Kesra HR Agung Laksono, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi dan Kepala BKKBN Fasli Jalal meluncurkan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012.

Aktif Promosikan Implant dan IUD

BKKBN Provinsi Sumsel aktif merangkul bidan untuk mempromosikan alat kontrasepsi “implant” dan ” Intra Uterine Device” dalam mengejar target kesimbangan jumlah penduduk tahun 2015.

Menurutnya, program Kependudukan dan Keluarga Berencana belum berjalan dengan semestinya berdasarkan hasil Survey Demografi Kependudukan Indonesia (SDKI) tahun 2012, mengingat terjadi peningkatan jumlah total angka kelahiran atau Total Fertility Rate (TFR).

Angka TFR tercatat 2,6 per wanita usia subur (dalam 10 wanita usia subur terdapat 26 anak yang terlahirkan) atau menyamai catatan SDKI 2007 (stagnasi).

“Harus diakui bidan menjadi ujung tombak pelayan kesehatan dan Keluarga Berencana, khususnya di pedesaan. Peran strategis ini yang diberdayakan BKKBN dalam mengejar target Millennium Development Goals (MDGs) serta membenahi hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012,” katanya.

Ia mengemukakan, pihaknya aktif melakukan pendekatan secara emosional agar para tenaga medis itu berkerja dengan sepenuh hati dalam melayani masyarakat.

Hal itu lantaran, pemerintah memberikan bantuan secara cuma-cuma alat kontrasepsi jangka panjang yakni “implant” dan “IUD” kepada masyarakat, serta pembebasan biaya pemasangan pada pelayanan bidan pemerintah.

“Intinya BKKBN tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan berbagai pihak, karena permasalahan kependudukan ini menjadi tanggung jawab bersama dan tidak bisa disepelekan. Karena, jika meleset satu persen saja dari target kepersertaan KB maka dampaknya akan sangat terasa pada satu dekade kemudian bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Sementara ini, Sumsel yang memiliki 2.265 orang bidan berstatus pegawai pemerintah berupaya menghilangkan julukan sebagai “Ratu Suntik” di Indonesia.

Pemerintah berharap tenaga medis itu aktif dalam mempromosikan pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang, karena lebih efektif dan efisien dibandingkan penggunaan suntikan dan pil yang rentan terjadi “drop out”.

Pada 2013, pihaknya menargetkan kenaikan hingga 15 persen penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang itu, setelah mencatat sebanyak 10.710 orang melakukan pemasangan IUD dan 37.870 orang memakai implan pada 2012.

Teks: Junaidi Abdillah

Editor: Sarono P Sasmito





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster