Menakar Harga Kedelai

 247 total views,  2 views today

KEDELAI

Ilst Kedelai

PALEMBANG KS-Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disprindagkop) Kota Palembang, menyambut baik opsi yang ditawarkan pusat guna menekan harga kedelai yang tak kunjung turun.  Menakar harga kedelai di pasar tradisionil.

Sekadar informasi kini harga kedelai dipasar-pasar tradisonal saat ini Rp 10 ribu perkilogram. Sedangkan untuk harga normalnya sekitar Rp 7.400 perkilogram.

Menurut Syahrul Hefni Kepala Dinas Disperindagkop Kota Palembang, pihaknya sepakat apabila dua rencana Pemerintah Pusat tersebut. Adapun opsi yang akan diambil, kedelai akan disubsidi dan impor kedelai sebanyak-banyaknya dari luar.

“Jika itu sudah mencadi rencana Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah akan mengikuti itu. Namun, kami belum mengetahui pasti kapan rencana tersebut akan dilaksanakan,”ungkap Syahrul, Selasa (17/9).

Kata Syahrul, kedelai merupakan bahan pokok untuk pembuatan tahu dan tempe. Menurutnya, para pengrajin tahu dan tempe sudah bisa menyikapi dan menyesuaikan terhadap tingginya harga kedelai saat ini.

“Misalnya, dengan cara mengecilkan ukuran, atau bisa juga dengan cara menaikkan harga jual tempe dan tahu tersebut. Sejauh ini di Palembang, tingginya harga kedelai bukanlah menjadi persoalan,”bebernya

Disperindagkop, Sambung Syahrul, berperan untuk menstabilkan harga. Namun berbeda dengan harga kedelai ini, karena kedelai ini persoalan Nasional.

“Kami hanya memberikan dukungan saja. Tapi kalau kelangkaan hanya di Kota Palembang saja, kami akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi atau daerah lain yang bisa menghasilkan kedelai,”katanya

Daerah Sumsel yang menghasilakan kedelai hanya 3 Kabupaten yakni Musi Rawas, Ogan Komering Ulu Timur, dan Lahat.

“Selain itu, tidak ada lagi. Lagian pula ke tiga Daerah tersebut hanya mampu mencukupi untuk kebutuhan pribadi, atau hanya di Daerah tersebut saja,”akunya

Syahrul menghimbau, dengan adanya aksi mogok yang dilakukan oleh Gabungan Koperasi Pengrajin Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo), Senin (9/9)-Rabu (11/9) yang lalu, tidak membuat pengrajin tahu dan tempe Palembang berhenti berproduksi.

“Para pengrajin, diharapkan dapat terus berproduksi, karena selama ini di Kota Palembang tetap berjalan normal untuk kebutuhan tahu dan tempe,”tukasnya

TEKS:ALAM TRIE MARSATA

EDITOR:RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster