Harga Daging Ayam Meroket

21 total views, 3 views today

daging

PALEMBANG, KS-Dalam dua pekan terakhir, harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional di Kota Palembang, meroket. Harganya terus mengalami kenaikan, hingga bertahan di harga Rp40 ribu per kilogram (kg) nya.

Harga daging ayam itu menurut Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Dinas Perindustrian,Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Palembang, Yustianus, lebih mahal dibandingkan harga normal.

Kenaikan harga daging ayam itu menurutnya, salah satunya disebabkan banyaknya permintaan dari masyarakat sehingga stok menipis. “Pasca Idul Fitri, banyak masyarakat yang menggelar hajatan sehingga banyak permintaan daging ayam dari masyarakat. Hitung saja, setiap hajatan yang di gelar masyarakat setidaknya, bisa membutuhkan lebih kurang 120 kg daging ayam sedangkan hajatan perminggunya bisa ada 200 hajatan,” jelas Yustinus ketika dibincangi, Senin (16/9).

Kenaikan harga daging ayam itu menurutnya, juga disebabkan adanya kecendrungan perubahan harga, bukan sebuah kenaikan. Harga ayam semula Rp25.000-Rp 27.000 perkilogram berubah menjadi Rp 27.000-Rp35.000 perkilogram. Perubahan harga ini berarti tidak akan turun lagi, menjadi harga semula. “Tapi, sudah dua minggu ini, harga Rp40.000 bertahan. Kondisi ini kita perkirakan segera berubah lagi,”ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kota Palembang, Harrey Hadi mengatakan, stok daging ayam di kota Palembang mencukupi bahkan terbilang surplus.

Hal tersebut berdasarkan kebutuhan daging ayam sebanyak 35.000 ekor perhari, sedangkan stok daging ayam sekitar 50.000 ekor. Pasokannya itu di dapatkan dari peternak ayam di Palembang dan beberapa daerah Sumsel lainnya seperti Banyuasin, Ogan Ilir, Kayu Agung, dan Betung. “Daging ayam ini dipasok melalui rumah potong ayam (RPA) yakni Alang-Alang Lebar (AAL), Sukarami , Kalidoni, dan Sako,”sebutnya

Jika stok berlebih, kenapa harga naik ?, itu kata Harrey diperkirakan, karena adanya kecenderungan banyaknya gelaran pernikahan maupun sedekah ruah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para pedagang, untuk mendapatkan untung lebih tinggi. “Kenaikan harga ini bersifat situasional karena permintaan memang tinggi,”akunya.

Untuk mengantisipasi kenaikan harga, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan pihak terkait seperti Disperindagkop dan RPA untuk dapat menekan harga. Dengan begitu, kenaikan harga bisa dikurangi sebelum sampai ke masyarakat pembeli. “Kami akan menerjunkan tim untuk survey, terutama dalam mencegah spekulan pasar,”tukasnya.

Teks     : Alam Trie Putra
Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com