Fenomena Politik Pendukung Emosional

 189 total views,  2 views today

Foto-Gagasan-Abdul-Muis-Syam---Aktifis-Pro-DemokrasiOleh Abdul Muis Syam, Aktifis Pro demokrasi

JELANG Pemilu 2014, banyak orang yang tanpa sadar telah terjebak dalam manuver-manuver politik praktis. Caci-maki dan saling hujat dengan mudahnya terlontarkan demi membela figur yang mereka nilai lebih layak didukung sebagai Calon Presiden (Capres) 2014 mendatang.

Parahnya, mereka para pendukung itu kebanyakan adalah bukan sebagai kader partai politik (parpol) “pengusung” figur tersebut. Dan celakanya, sebagian besar di antara mereka bahkan sama sekali belum mengenali secara jelas seperti apa sesungguhnya figur yang mereka dukung itu.

Satu-satunya alasan klasik yang sangat menonjol  mengapa mereka ikut mendukung figur tersebut adalah, bahwa “nama” figur itu sudah sangat populer di mana-mana. Bahkan sebagian di antaranya bisa dengan gampangnya menunjuk mana figur  yang cocok dan mana figur yang tidak pas untuk jadi capres hanya berdasar pada ‘pandangan mata’ dan menurut ‘perasaaan’ masing-masing.

Padahal tanpa disadari, figur-figur yang ada saat ini bisa menjadi populer adalah lebih banyak karena dari hasil “rekayasa” media melalui pemberitaan yang gencar  disuguhkan ke permukaan. Kemudian ini diperkuat lagi dengan  kalimat-kalimat “manis pemikat” dari figur-figur itu yang memang secara sengaja “merangsang” masyarakat melalui penayangan iklan-iklan di berbagai media komersial.

Celakanya, tidak sedikit masyarakat yang langsung menelan bulat-bulat dan mentah-mentah suguhan berita maupun iklan-iklan dari media komersial tersebut. Ditambah lagi karena mengetahui bahwa teman, tetangga dan keluarganya telah mendukung figur bersangkutan, membuat seseorang pun ikut mengukuhkan figur yang telah populer itu sebagai jagoannya tanpa diikuti dengan sikap bijaksana dan cermat.

Sungguh, sikap seperti inilah yang menunjukkan bahwa sebenarnya mereka lebih banyak hanyalah ikut-ikutan mendukung secara emosional, bukan secara rasional.

Sehingga, ketika terlibat dalam “diskusi” atau perbincangan seputar figur-figur capres yang berkualitas, maka mereka-mereka inilah (pendukung emosional) yang akan nampak lebih banyak secara vulgar melontarkan kata-kata kasar dan sinis kepada figur lainnya demi membela jagoannya.

Dan aksi menghujat dan mencaci maki figur-figur lain ini dapat dengan jelas dilihat di sejumlah media-sosial, seperti di Facebook, twitter dan bahkan pula di Kompasiana sebagai media warga yang memang paling terkemuka saat ini.

Sedikit tentang Kompasiana, yang hingga saat  ini nampaknya memang telah berhasil menempatkan diri sebagai “penyedia media” bagi seluruh warga agar bisa pro-aktif “berkreasi” menumpahkan uneg-uneg melalui artikel masing-masing, termasuk tentunya bagi para pendukung emosional. Sehingga di sini sangat diharapkan seluruh Admin Kompasiana hendaknya tidak memanfaatkan pula “kepopuleran Kompasiana” untuk berat sebelah atau terkesan lebih berpihak kepada kepentingan sejumlah figur tertentu.

Artinya, Admin Kompasiana hendaknya harus bisa tetap memperlihatkan sikap profesionalismenya dengan senantiasa “membiarkan” persaingan (saling dukung mendukung) ini berlangsung secara fair tanpa harus ikut terjebak secara emosional pula. Misanya, Admin Kompasiana sebagai pemegang “otoritas”  di Kompasiana ini tentulah dapat saja “mungkin” secara emosional mengarahkan sejumlah artikel untuk ditempatkan pada posisi Headline, Highlight, Trending Articles, Featured Article dan lain sebagainya.

Kehadiran Facebook, Twitter, apalagi Kompasiana adalah sangat berperan menentukan pembentukan opini publik. Saya bisa menunjuk di antara media-sosial ataupun media warga yang ada saat ini, maka Kompasiana-lah yang  paling mampu memperlihatkan perannya secara amat strategis, karena di Facebook dan di Twitter tidak ada penempatan tata-letak postingan atau artikel berdasarkan penilaian keputusan dari adminnya.

Sehingganya, Admin Kompasiana setiap saat dituntut agar mampu memperlihatkan “jati diri” Kompasiana sebagai “Kiblat Informasi” milik warga yang berasal dari kelas paling bawah hingga kelas ekslusif itu.

Apalagi menjelang Pemilu 2014 ini, Kompasiana dipastikan akan semakin “dikerumuni” oleh para member-nya untuk memposting artikel maupun sekadar mengomentari artikel milik kompasianer lainnya. Tentunya adalah artikel yang bernuansa politik akan semakin banyak mengalir masuk ke Kompasiana. Saling dukung-mendukung, yang diwarnai dengan hujat-menghujat, caci-maki dan pembunuhan karakter terhadap satu dengan lainnya pun akan semakin tajam dan sangat sulit dihindari.

Dalam hal ini pula saya katakan secara jujur, bahwa saya adalah termasuk orang yang sudah punya figur sebagai jagoan yang kini sedang saya dukung dan perjuangkan untuk dapat “terlahir” sebagai pemimpin di negeri ini, tetapi bukan untuk saya paksakan secara emosional agar orang lain bisa ikut mendukung, melainkan dengan cara-cara rasional. Dan ini saya mulai dengan memunculkan dan penampilan akun saya (facebook, twitter hingga di Kompasiana ini) secara tidak sembunyi-sembunyi, alias akun saya asli.

Dan sejauh ini, saya berusaha untuk tidak meladeni pendukung emosional seperti itu, kecuali dengan cara-cara rasional. Tetapi terus terang, saya sangat menolak cara ekstrem dari para pendukung emosional dalam mendukung figurnya secara berlebih-lebihan, yakni ketika memberi komentar, dengan mudahnya melemparkan kata-kata kasar yang bermaksud untuk menjatuhkan seorang figur yang diuraikan dalam artikel yang menjadi “saingannya” itu. Sehingga tentunya, ini bisa menimbulkan perdebatan sengit yang sangat tidak sehat, karena malah hanya akan saling menciderai dan melukai satu sama lainnya. Apakah begitu cara dan tujuan mendukung figur yang ingin dilahirkan sebagai pemimpin di negeri ini?

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster