Pemerintah Ditekan Importir

 198 total views,  2 views today

OLEH SARONO P SASMITO

HARI-hari masyarakat makin banyak mengeluh etika kebutuhan pangan mereka tak tercukupi dengan baik. Kondisi itu juga dirasakan secara meluas termasuk kita yang berada di Palembang dan Sumatera Selatan ini. Banyak bahan makanan yang digemari masyarakat jadi barang langka dan mahal harganya seperti tempe. Mahalnya kedelai sebagai bahan baku membuat pengrajin tempe banyak yang gulung tikar.

Kita jadi miris ketika mendapatkan informasi dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang menduga Menteri Perdagangan (Mendag) Gita Wirjawan mendapat tekanan dari para importir, sehingga dia tidak tegas dalam mengatasi krisis harga pangan, terutama kedelai.

Menurut Sekjen HKTI Benny Pasaribu, Mendag juga terkesan ragu dalam mengambil sikap untuk mengatasi fluktuasi harga daging sapi beberapa waktu lalu. Padahal kunci stabilisasi harga pangan, termasuk daging sapi, berada di tangan Mendag.

“Kalau memang pro rakyat, seharusnya dia tegas mengambil kebijakan dan tidak malah membiarkan krisis harga pangan berlarut-larut. Untuk menekan praktik kartel yang menyebabkan harga pangan mengalami lonjakan di luar kewajaran, pemerintah perlu menerapkan kebijakan tarif–bukan kuota impor. “Atau kalau tidak, cabut izin impor pihak swasta dan berikan itu kepada Perum Bulog dan koperasi,” kata Benny pula.

Kita mengharapkan tarif  diterapkan sehingga produksi pangan di dalam negeri bisa diberdayakan. Agar bisa swasembada kedelai, misalnya, berikan bibit unggul dan pupuk kepada petani. Kalau perlu, berikan secara gratis.

Sementara itu, Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa (Inkud) Pahlevi Pangerang menilai, lonjakan harga dan kelangkaan pangan saat ini hanya sandiwara yang terus berulang saban tahun. Selama ini, katanya, penyelesaian masalah pangan tidak pernah substansial.

Krisis harga kedelai saat ini sama dengan gejolak harga daging menjelang Ramadhan lalu. Ujung-ujungnya, keran impor dibuka lebar dengan alasan untuk mengendalikan harga di pasaran. Padahal, harga bergejolak akibat permainan pihak tertentu. Hal ini yang sangat disayangkan.

Kita juga sangat mengharapkan agar  pemerintah menjadikan kebijakan impor bersifat sementara dan disertai konsep pembangunan pertanian yang terukur, sehingga suatu saat swasembada pangan tercapai. Ini juga sesuai program Kemtan meraih swasembada jagung, beras, kedelai, dan daging sapi pada tahun 2014.  Dengan impor yang makin deras, apakah kita secara konsisten mampu meningkatkan produksi kedelai? Saat ini kemampuan produksi kedelai di dalam negeri hanya 800.000 ton per tahun, sedangkan kebutuhan mencapai 2,5 juta ton. Jadi masih sangat banyak kekurangannya.

Melihat kondisi demikian tak ada jalan lain, kecuali pemerintah mesti memberdayakan semua potensi yang ada di dalam negeri. Kemudian edikit demi sedikit melepaskan ketergantungan dari barang impor.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster