Sumsel Penyumbang Tanaman Pokok Pertanian

 238 total views,  2 views today

antara

Ilst. Antaranews.com

PALEMBANG KS-Propinsi Sumatera Selatan (Sumsel) bukan hanya kaya SDA tapi juga salah satu penyumbang tanaman pokok dari hasil pertanian seperti sawit. Demikian diungkapkan Menteri Pertanian Suswono saat membuka Seminar Nasional Dan Muscab GAPKI Sumsel dengan tema”  Perkebunan Kelapa Sawit Lestari dan berkelanjutan,” di Novotel Palembang,  Rabu (11/9).

Menurutnya,  saat ini Indonesia  produser terbesar penghasil  CPO di dunia. Karena, dalam satu tahun bisa menghasilkan 28 juta ton CPO yang diproduksi dari kelapa sawit, sedangkan untuk  secara nasional luas lahan perkebunan sawit di Indonesia pada tahun 2012 seluas  8,9 juta hektar.

“Nah ini berarti menunjukan luas  area sawit saat ini mengalahkan luas sawah di Indonesia dimana untuk secara nasional luas lahan  persawahan hanya 7,8 juta hektar, ” bebernya.

Pihaknya beraharap  sawit ini terus berkembang terutama untuk lahan pertanian agar dapat dimanfatkan untuk tanaman pangan pokok khususnya di Sumsel.

Tapi, tidak juga harus mengganggu produksi pertanian tanaman pangan nasional. “Persoalan pangan pokok saat ini   menjadi perhatian yang serius, bahkan persoalan ini dapat menjadi  konflik antara negara yang dipicu dengan pangan pokok ini, Dengan adanya ancaman pangan pokok ini maka dirinya perlu mengingatkan semua pihak agar pangan pokok ini dapat dipikirkan pemecehannya secara bersama, dan tentunya kita memiliki potensi didepan mata kita, “bebernya.

Dikatakannya, lahan sawit tidak hanya untuk menghasilkan sawit saja melainkan bisa di intergrasikan dengan ternak. Apalagi, jika ini berhasil diterapkan maka Indonesia tidak lagi tergantung kepada negara Australia khususnya ternak, agar nantinya tidak ada sampah yang terbuang tapi bisa di manfaatkan menjadi pangan ternak.

“Kita saat ini tengah membuat percontohan di salah satu HTI di Indonesia, dimana perusahaan tersebut  dapat penanaman tanaman pangan  dilahan HTI karena berpotensi  untuk menanam padi dan itu memungkinkan memberikan manfaat bagi  masyarakat sekitar, “tandasnya.

Dalam Undang undang pasal 33 ayat 4 tertuang. Bahwa, perekonomian Indonesia diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.
“Maka dari itu dalam kemajuan perkebunan sawit, Kesadaran bersama sangat penting dan ini merupakan amanah, berdasarakan UU 33 tersebut, bahkan kita telah membangun sitem Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) dimana sitim ini bersifat monitoring dan wajib, untuk semua pelaku kelapa sawit harus menerapkan ini dan tidak ada alasan karena. ISPO telah di launcing pada saat 100 tahun pengembangan kelapa sawit di Indonesia,” urainya.

Disinggung, mengapa kedelai lokal belum bisa mengkofer nasional. Dimana hanya mampu sekitar 30 persen, dimana  harga kedelai itu dari beberapa tahun yang lalu sudah jatuh, kalah dengan harga impor, setelah impor dibuka, maka petani tidak menjadi tertarik lagi. Dimana lahan kedelai ini yang tadinya ada seluas 1,6 Juta hektar,  saat ini berkurang menjadi sekitar 700 ribu hektar itu dipicu karena harga yang jatuh tersebut.

“Pada tahun 1992 yang lalu pernah dilakukan swasembada kedelai dengan lahan 1,6 juta hektar itu, harga kedelainya saat itu satu setengah dari harga beras namun sekarang dengan harga mahal di pasar internasional apa lagi dengan ditambah depresasi rupiah saat ini, maka petani tidak tertarik menanam kedelai, karena penanaman kedelai ini merupakan pilihan terkahir
apa lagi dibeberapa daerah petani menanam kedelai hanya untuk tanaman selingan” bebernya.

TEKS : JADID ULUL AL BAB
EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster