Pangan di Sumsel Dinomorduakan

 221 total views,  2 views today

kabar-sumatera-01

Menyetop Produksi – Seorang pekerja sedang membungkus kedelai kedalam daun pisang yang nantinya menjadi tempe di pabrik tempe macan lindungan, Palembang, beberapa waktu lalu. Mahalnya kacang kedelai membuat para pengusaha tempe terpaksa menyetop produksi tempe. FOTO : BAGUS KURNIAWAN/KS

PALEMBANG KS – Carut-marut soal kedelai di provinsi ini bukan hanya berkait dengan lisensi kedelai belaka. Namun, celakanya budidaya pangan pun dinomorduakan. Akibatnya? Pasokan kedelai telah ‘meraja’ dari negara surplus kedelai.

Menyoal cerita kedelai di Bumi Sriwijaya seakan tak pernah usainya. Menurut Amidi pengamat ekonomi mikro, sejak lama komoditi kedelai yang beredar di pasaran bersumber dari impor negara luar. Sebut saja Amerika Serikat, dan negara eropa lainnya.

“Kita harus akui itu, bahwa kedelai yang dijual dipasaran asalnya dari sana. Lalu,  bicara lisensi mutu kedelai itupun merupakan buah sepakat antara anggota asosiasi pengusaha tahu maupun tempe,” Amidi berkata.

Hebatnya lagi, tutur Amidi, setiap biji kedelai yang dikonsumsi serupa tempe dan tahu bukanlah berkualitas nomor satu, melainkan kedelai impor tersebut adalah bermutu nomor dua. Di mana, harga jual kedelai untuk kualitas nomor dua ini berkisar antara Rp 6.000 sampai Rp 7.000 per kilogram.

“Untuk kualitas nomor satu cukup mahal dua kalipat harganya yakni mencapai Rp 14.000 per kilogram,” beber Amidi.

Seringkali pula selangitnya harga jual kedelai menjadi problema nan klasik di Sumatera Selatan—provinsi terkaya nomor lima di Indonesia. Namun begitu, kata Amidi, kenyataannya bahwa komoditi kedelai plus kebutuhan pangan impor lainnya sama halnya mengurai sebuah dilema pangan yang berkepanjangan.

“Jika saja mau berhitung secara keekonomian, maka segeralah perbaiki dulu harga daya beli konsumen. Ini maksudnya, selama ini yang terjadi kan tidak adanya insentif yang berkesinambungan, contohnya bebas biaya impor. Dan, itu tidak tercover dengan baik,” Amidi menyampaikan.

Padahal, kata Amidi, bila dilihat dengan kasat mata, potensi budidaya pertanaman sektor pangan di Sumsel ini jauh sekali bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Sehingga efeknya? Bertahun-tahun bahkan kedelai yang dipasok ke provinsi ini berasal dari impor.

“Saya dari 2003 dan 2008 selalu mengingatkan bahwa impor pangan termasuk di dalamnya kedelai ini cukup rentan. Ternyata apa yang terjadi? Pelaku usaha tahu-tempe yang merasakan penderitaannya. Kinipun rakyat sengsara karena pangan dinomorduakan,” cetusnya.

Dari kajian Amidi terungkap bahwa hampir 60 persen impor kebutuhan pangan di provinsi ini berasal impor negara luar.

“Ini juga berarti bukan lisensi kedelai saja yang bermasalah, namun budidaya pangan pun sangat rentan dengan persoalan harga,” ujarnya.

Idealnya, lanjut Amidi, Sumsel berusaha mengembalikan kedaualatan pertanian yang berpihak pada sektor pangan. Salah satunya bisa dengan cara menggalakkan kembali program lumbung pangan. Hal ini penting dilaksanakan, sebab negara pangan yang surplus memermainkan harga  seenaknya.

“Kita terlalu lama dipermainkan oleh negara surplus pangan. Untuk menghindari itu, sebaiknya kita membuat pola pangan yang baik. Bisa dengan cara merealisasikan apa itu program lumbung pangan,” katanya.

Persoalan kedelai bukan semata terletak di lisensi kedelai semata. Parah dari itu adalah masyarakat konsumen dibebankan dengan harga double atau dua kali lipat.

“Saya kurang optimistis kalau  masalah kedelai ini bakal berkahir segera,” Amidi mengakui.

Sepotong Tempe Rp 4.000

Beberapa hari ini, Budiman si penjual tempe di pasar tradisional Palembang  menjual tempe masih di angka Rp 3.000 hingga Rp 4.000 per potong. Untuk bisa memeroleh laba yang cukup, Budiman pun dengan terpaksa mengurangi ukuran tempe sebelum dipasarkan.

“Bila tidak begitu, saya tidak dapat untung. Ya, baiknya saya kurangi saja ukurannya,” cetus Budiman.
Walaupun adanya mogok produksi oleh perajin tempe dan tahu, namun Budiman sepertinya tidak terpengaruh. Justru  sekiranya terjadi, ia tidak ikut-ikutan mogok berproduksi.
“Di sini (Palembang.red) susah, pedagang tidak kompak semuanya. Beda, jika di Jawa, pedagang di sana kompak. Nah, jika pembuat tahu tempe tidak produksi, kita mau kerja apa? Sama halnya dengan pembuat tahu tempe,” kata ayah dua anak ini.
Warga Tangga Buntung, Kecamatan Gandus, Palembang ini berkisah, seharinya ia memasarkan produk tempe sebanyak 20 potong dan tahu sebanyak 200 biji. Anda tak laku terjual dijual dengan harga miring. Bahkan, ia pernah membuangnya karena berjamur serta tak laik konsumsi.
“Ya, namanya jualan kadang habis kadang tidak,” cetusnya.

Senada dengan Budiman, Anjarwati penjual tempe dan tahu di Pasar 26 Palembang menyebutkan, saat ini penjualan tahu-tempe mengalami kenaikan 20  persen dari harga normalnya.

“Aku jual tempe ini perpotong Rp 4.500. dengan harga segitu, banyak pembeli yang engan membelinya,” katanya.

TEKS       : JADID ULUL ALBAB/AHMAD MAULANA

EDITOR : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster