Kuesioner Vulgar

 170 total views,  2 views today

OLEH SARONO P SASMITO

KENDATI menimbulkan kehebohan di masyarakat, Kementerian Kesehatan (Kemkes) tetap akan menyebarkan kuesioner vulgar ke sekolah. Sebab, hal itu merupakan bagian program usaha kesehatan sekolah yang digagas bersama empat kementerian yaitu Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Agama, dan Kementerian Dalam Negeri.

“Ini merupakan upaya penjaringan kesehatan untuk mendeteksi secara dini masalah kesehatan peserta didik,” kata Direktur Bina Kesehatan Anak, Kemkes, Elizabeth Jane Soepardi.

Jumpa pers itu digelar terkait dengan pemberitaan di kantor berita Prancis, AFP, seputar peredaran kuesioner di kalangan siswa di Kota Sabang, Aceh, yang dinilai vulgar karena melampirkan gambar organ kelamin pria serta payudara wanita. Berita itu kemudian menjadi heboh setelah banyak dikutip media asing.

Jane menjelaskan, heboh kuesioner vulgar itu lantaran selembar lampiran yang menampilkan alat kelamin pria dan payudara wanita. Padahal, sesungguhnya kuesioner itu berbentuk buku berjudul Petunjuk Teknis Penjaringan Kesehatan Anak Sekolah Lanjutan.

Rangkaian penjaringan kesehatan terdiri dari pemeriksaan keadaan umum, pemeriksaan status gizi, pemeriksaan gigi dan mulut, pemeriksaan indera penglihatan, pendengaran, pemeriksaan kesehatan inteligensia, pemeriksaan kesehatan mental remaja, pemeriksaan kesehatan reproduksi, pemeriksaan laboratorium, dan pengukuran kebugaran jasmani. Gambar organ kelamin yang ada dalam kuesioner tidak ada unsur pornonya karena gambar itu merupakan materi edukasi yang berstandar internasional. Menurut dia gambar itu gambar standar yang sudah digunakan di seluruh dunia sejak 1970, disebut Skala Tanner, berupa panduan gambar daerah genitalia dan payudara. Skala Tanner bukan buatan Indonesia. Itu materi edukasi, bukan pornografi. Sedangkan soal organ kelamin pria itu merupakan salah satu subbagian yang membahas soal alat reproduksi. Jawabannya hanya diketahui petugas kesehatan dan bersifat rahasia. Kita mengharapkan data tersebut memang benar-benar digunakan untuk melihat kondisi kesehatan anak didik dan mencari solusi untuk pemeliharaan kesehatan mereka. Jika tujuannya untuk hal itu maka azas manfaat dari kuesioner itu bisa didapatkan.

Apalagi saat ini memang banyak hal tentang pergaulan anak muda yang perlu diwaspadai. Dalam kondisi demikian mereka sama sekali tak memperharikan kesehatan organ reproduksi mereka. Padahal dari organ reproduksilah akan dilahirkan generasi penerus yang diharapkan makin berkualitas di masa-masa yang akan datang. Moga demikian.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster