Kemarau Datang, Sayuran Meradang

 505 total views,  2 views today

sayur

PAGARALAM KS-Dampak musim kemarau yang melanda Kota Pagaralam dan sekitarnya, bukan sekedar berefek pada air bersih, namun merosotnya produksi sayuran. Turunnya hasil panen kali ini bukan hanya dialami petani yang membuka lahan didataran rendah saja, termasuk didataran tinggi pun merosot jauh seperti yang terjadi 2012 lalu. Kini, kemarau datang angka produksi sayuran meradang.

Menurut Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Kota Pagaralam, Jumaldi Jani SP MM, Ahad (8/9) mengakui hal itu. Ia mengatakan, pemicu turunnya hasil produksi sayuran saat ini lebih dipengarui cuaca yang sudah tidak menentu. Karena cuaca tahun ini (2013-red) tergolong berubah drastis, yakni bila musim kemarau terus berkelanjutan, padahal sudah memasuki musim penghujan, begitu pula sebaliknya.

“Data panen jenis sayuran di tahun 2011 lalu tembus 52.716 ton, sedangkan 2012 hanya mencapai 11.279,5 ton. Jumlah ini mengalami penurunan begitu derastis yakni sekitar 41 ribu ton. Sementara permintaan pasar mengalami peningkatan,  sehingga berpengaruh pada kenaikan harga.  Karena sebagian besar mesti didatangkan dari daerah tetangga,” jelasnya.

Salah satu pemicu merosotnya hasil panen, kata dia, tak lain yakni musim kemarau berkepanjangan melanda Bumi Besemah ini terhitung pertengahan hingga penghujung tahun.

“Sisi lain, permintaan pasar peningkat dan harga naik. Namun tak heran, dikala harga naik para petani berlombah-lombah menamnya hingga membanjiri pasar, begitu pula harga anjelok,” bebernya.

Ia berkata, adapun pengawasan di sentra pertanian terus dimonitor, mulai dari tanam hingga harga jual. Per Januari-Mei 2013, untuk produksi sayuran utama yang ditanam petani sudah mencapai 6.134,3 ton dengan rincian, kubis 3.064 ton, sawi 2.144 ton, cabai merah 55.4 ton, tomat 70,4 ton, kentang. 113 ton, buncis 93,5 ton, daun bawang 112 ton, wortel. 252,1 ton, terong 60,6 ton, kacang panjang 69 ton, kangkung 3 ton dan timun 84,1 ton.

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, produksi sayuran terbesar adalah jenis kubis dan sawi jika dibandingkan dengan jenis sayuran lainnya,” sebut dia.

Padahal, lanjut dia, Pagaralam merupakan sentra sayur mayur di Sumsel. Namun dalam beberapa tahun terakhir, permintaan pasar terpaksa didatangkan dari luar daerah. Hal ini lebih dipengaruhi oleh faktor cuaca maupun kurang seriusnya minat petani untuk membudidayakan kebutuhan dimaksud.

“Seperti bawang putih, bawang merah, cabe rawit, lobak putih, kembang kol, kacang merah dan bayam, tidak begitu serius dibudidayakan para petani di Bumi Besemah ini. Sebab itulah memenuhi kebutuhan pasar mesti didatangkan dari Pasma Air Keruh, Belitang, dan Curup Bengkulu,” kata Jumaldi.

Terpisah, Susilawati salah satu Agen sayur di Pasar Induk Nendagung mengatakan, memang kondisi tahun ini sama seperti tahun lalu banyak mendatangkan sayuran dari daerah luar dikala musim kemarau. Karena petani banyak mengalami gagal panen dan  tak heran mereka  menjadi sungkan untuk menanam jenis sayuran.

“Hal itu sangat berpengaruh pada naiknya harga jual. Sementara dimusim penghujan, kerap kebanjiran sayuran dan harganya pun anjelok,” kata Susi.

Teks : Antoni Stefen

Editor: Rinaldi Syahril





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster