Akan Terus Diguyur Hujan Buatan

 239 total views,  2 views today

hujan

PALEMBANG, KS-Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya memprediksi, September adalah puncak musim kemarau di Sumatera Selatan (Sumsel). Namun dalam satu minggu terakhir, hujan justru terus mengguyur Kota Palembang.

Hal ternyata, bukan murni disebabkan fenomena alam namun tanpa banyak diketahui masyarakat, hujan yang terus turun salah satunya disebabkan hasil rekayasa. Sejak dua bulan terakhir, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama TNI Angkatan Udara (AU) melakukan hujan buatan.

Bahkan hujan buatan ini, dalam beberapa minggu terakhir terus di intensifkan. Hal ini dilakukan, untuk mengantisipasi terjadinya kabut asap akibat kebakaran hutan atau lahan saat pelaksanaan Islamic Solidarity Games (ISG), 22 September-1 Oktober mendatang.

“Sejak enam minggu lalu sampai Oktober mendatang, penaburan garam terus dilakuan menggunakan pesawat Cassa A-2103,”kata Letkol Ali Purwoko, salah satu pilot dari Skadron Udara 30 Malang yang di tugaskan untuk menebar garam di atas langit Palembang ketika dibincangi, kemarin.

Ia menyebut, operasi teknologi modifikasi cuaca (TMC) tersebut sangat tergantung dengan arah angin, untuk menentukan awan tumbuh yang berpotensi mengandung air turun. Oleh karena itu, pihaknya selalu berkoordinasi dengan BMKG. “Kalau arah angin ke timur, kemungkinan besar membawa awan ke wilayah Palembang,”terangnya.

Ali mengatakan, dalam sehari, penerbangan dilakukan dua kali dengan jarak tempuh hingga 40 mil. Sedikitnya 800 kg garam bercampur natrium clorida ditaburkan. “Dari pantauan sementara, titik api berada di wilayah Bandara Sultan Mahmud Badaruddn (SMB) II. Kemungkinan besar, bersumber pada aktivitas pembuatan batu bata,”jelasnya.

Ali mengatakan, keberadaan awan tumbuh secara kasat mata bisa dilihat. Awan tumbuh biasanya terlihat mengkilap saat disinari matahari dan berwarna putih keabu-abuan. “Ada juga awan berwarna merah, awan itu kita hindari karena mengandung badai dan petir,”ujarnya.

Terpisah, Kasi Data dan Informasi BMKG Kenten Indra Purna mengaku, kegiatan hujan buatan belum perlu dilakukan. Mengingat, dari hasil pantauan pihaknya belum terdeteksi titik api di wilayah Palembang. “Terakhir, titik pantau api di akhir Agustus sekitar 27 titik di Kabupaten Musi Rawas dan Muratara. Sementara, OKI yang biasanya banyak hot spot, sekarang tidak ada,” katanya.

Meski demikian, pihaknya memaklumi kegiatan hujan buatan ini untuk mengantisipasi gangguan aktivitas penerbangan saat ISG nanti. “Seperti di Pekanbaru terganggu karena kabut asap,” ucapnya.

Indra menjelaskan, saat ini kondisi alam masih masuk musim kemarau meski potensi hujan dengan intensitas kecil masih ada. Menurutnya, sifat musim kemarau tahun ini seperti di tahun 2010 lalu. Maksudnya, dalam satu minggu hanya satu hari hujan. “Kemarau terjadi sejak bulan Juli dan diprediksi hingga September nanti. Kemungkinan hujan akan terjadi di bulan Oktober hingga November,”tukasnya.

Teks     : Alam Trie Putra
Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster