Teater Tubun dan Gembok Satu Pangung Dua Naskah

 842 total views,  2 views today

Gladiresik-Teather-Anak-SMA-15-Kota-Palembang,--yang-dilaksanakan-di-Gedung-Seni-Kebudayaan-Jakabaring-(2)

Gladiresik Teather Anak SMA 15 Kota Palembang, yang dilaksanakan di Gedung Seni Kebudayaan Jakabaring | Iwan KS

Dalam realitas kehidupan, diantara sekian banyak manusia yang berupaya berbagi ilmu pengetahuan terhadap sesama, ada saja sebagian lagi yang tetap keukeh tidak mau berbagi pada orang lain. Sementara pada faktanya, ilmu pengetahuan tidak bisa dilihat dari sisi matematik sebagaimana kita memiliki harta. Jika kita memiliki uang sebesar Rp 100 ribu, kemudian uang itu dibagikan Rp 10 ribu kepa alima orang, maka darisi materi uang itu akan berkurang, dan tersisa Rp 50 ribu. Tetapi ilmu pengetahuan, semakin kita mengajari banyak orang, maka ilmu pengetahuan akan kian melekat dalam diri seseorang. “Semakin banyak ilmu itu dibagi pada setiap orang yang membutuhkan, maka ilmu akan lebih banyak memberi manfaat bagi banyak orang. Tapi memang ada sebagian orang yang masih ingin menyimpan ilmu pengetahuan yang dimiliki untuk tetap disimpan dan tidak mau berbagi dengan orang lain,” ujar Yondi Aoudyto, sutradara pentas teater  hari ini, Sabtu (7/9) menjelaskan pesan dari naskah “Awal Tua terbenam”.

Pesan yang ingin disampaikan dalam naskah itu, menurut alumnus SMA Negeri 15 Palembang ini, untuk menggedor setiap pintu hati setiap orang yang selama ini ‘pelit’ terhadap ilmu pengetahuan. “Padahal seharusnya apapun ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang wajib dibagi kepada generasi berikutnya sehingga proses regenerasi berjalan,” tegasnya.

Naskah “Awal Tua Terbenam” merupakan garapan kolaborasi antara Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang dan Teater Gembok Palembang. Sebelumnya, “Kami secara personal tidak langsung ikut bermain dalam naskah ini, tetapi kami lebih banyak melibatkan personil teater Tubun. Sementara teater Gembok hanya mendesain dan menyutradari pementasan ini,” tambah Yondi yang kini masih aktif sebagai Mahasiswa di Universitas Bina Darma Palembang.

Naskah kedua yang juga akan ditampilkan dalam satu oaket pentas teater hari ini dan besok (7-8 September) menurut Yondi, adalah naskah “Setengah Patung Kasih”. Menurut Yondi pesan dalam naskah yang digarapa bersama teater Gembok dan Bengkel Kecil Teater SMP. Menurut Yondi dalam Bengkel Kecil Teater SMP ini merupakan gabungan dari sejumlah siswa SMP di Palembang, yang kemudian didirec oleh Teater Gembok Palembang.

Dalam naskah “Setengah Patung Kasih” menurut Yondi lebih menitik beratkan pada konflik rumah tangga, yang nyaris selalu terjadi. Diantaranya tentang usaha dan perjuangan hidup yang tidak selalu sukses. “Dalam perjalanan hidup di rumah tangga tidak akan selalu sukses seratus persen. Maksudnya,  cita-cita yang diinginkan pasti ada meleset dari keinginan. Pada posisi ini, diharapkan dengan naskah ini bisa meberi pelajaran, kalau sebuah usaha yang dijalankan manusia tidak selau mulus. Tetapi pada akhirnya semua hasil wajib diserahkan kepada Tuhan dan manusia hanya bisa berusaha, berikhtiar, berdoa,” ujarnya.

Sebagai informasi, pementasan Teater Tubun SMA Negeri 15 Palembang yang pernah dibina oleh Imron Supriyadi, salah satu praktisi seni dan pers di Palembang selama 2 tahun, untuk kali ini merukana pentas yang ke-5. Sebelumnya Muhamad Yunus, aktifis teater 09 juga pernah ikut ‘berbagi ilmu’ di Teater Tubun. Kini Teater Tubun selain dilatih langsung oleh ersonil Teater Gembok, juga didukung penuh oleh Kepala Sekolah SMAN 15 Palembang, Drs.Syamsul Bachri dan pembina lainnya, seperti HJ.Betty Suarni,S.Pd,MM dan Dra.HJ.Pri Ismawati.

Namun pentas kali ini, disebutkan Yondi, Teater Tubun berkolaborasi dengan Teater Gembok Palembang (alumnus SMAN 15) dan menggandeng sejumlah anak-anak SMP. “Pada pementasan kali ini dalam satu sesi akan mengusung dua naskah langsung. Kalau biasanya satu kali pentas satu naskah. Tapi kali ini sekali pentas kita usung dua naskah,” ujarnya.

Yondi mengakui, dinamika kesenian dalam konteks perteateran di Palembang sampai saat ini masih sangat perlu mendapatkan perhatian serius. Mengingat, potensi Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di kalangan anak SMA dan SMP terutama dalam seni teater di Palembang cukup potensial, sehingga melalui potensi ini proses pengembangan seni teater  menjadi keharusan yang dilakukan melalui teater di SMA.

“Potensi seni teater itu dapat dilihat dari sejumlah sekolah dan kampus yang mayoritas memiliki sanggar seni teater. Tetapi pada kenyataannya pentas yang dilakukan lebih banyak sekadar memenuhi nilai akademik atau kegiatan ekstra tanpa ada tindak lanjut yang lebih mengedepan. Nah kita harapkan melalui pementasan kali ini bisa ikut menciptakan iklim teater di Palembang yang lebih baik di masa mendatang,” tegasnya.**

TEKS / FOTO : IWAN CHERISTIAN

EDITOR : JUNAIDI ABDILLAH





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster