Aksi Mahasiswa UMP, Jaket Almamater Ikut Dibakar

 1,609 total views,  2 views today

ump

Universitas Muhammadiyah Palembang

PALEMBANG | KS-Mahasiswa dari tujuh fakultas di Universitas Muhammadiyah Palembang (UMP), Kamis (5/9), kembali melakukan aksi unjuk rasa untuk kedua kalinya di depan kampus FH UMP. Mereka melakukan aksi itu, dikarenakan tidak dilibatkan oleh pihak rektorat dalam pelaksanaan program pengenalan kampus mahasiswa baru (P2KMB).

Pantauan Kabar Sumatera, aksi ini melibatkan ratusan mahasiswa yang berasa dari lembaga kemahasiswaan dari tujuh fakultas dilingkungan UMP. Mereka menyebut, kebijakan rektorat yang tidak melibatkan mahasiswa dalam P2KMB bisa merugikan mahasiswa.  “Kegiatan P2KMB ini, adalah hak mahasiswa untuk menyelernggarakannya. Sehingga sudah seharunya, mahasiswa dilibatkan oleh rektorat,” kata Charles, koordinator aksi (korak).

Charles menyebut, mereka akan terus melakukan aksi sampai Rektor UMP mau menemui dan memenuhi tuntutan mereka.  Namun ancaman itu, seakan tidak dipedulikan. Walau terus melakukan orasi, aksi mahasiswa ini tidak ditemui oleh rektorat UMP.

Bahkan Rektor UMP, M Idris yang hendak ditemui ratusan mahasiswa ini tidak ada di tempat.  Kecewa tidak bisa menemui Rektor UMP, mereka pun melakukan aksi dengan membakar ban bekas bahkan jaket almamater mereka ikut dibakar.

Ratusan mahasiswa ini, juga mencoba masuk gedung rektorat sehingga nyaris terlibat bentrok dengan petugas keamanan kampus. “Kami menuntut hak kami sebagai mahasiswa. Kebijakan rektorat dan dekan, selama ini banyak merugikan mahasiswa. Misalnya pungutan liar dan fasilitas kampus, yang sangat tidak memihak mahasiswa. Kemudian tidak ada transparansinya dana kemahasiswaan, dari pihak rektorat kepada lembaga mahasiswa,” ungkap Charles.

Sebagai informasi, sebelumnya aksi yang sama telah dilakukan ratusan mahasiswa UMP itu pada Selasa (3/9). Mereka bahkan menuntut Rektor UMP, M Idris untuk mundur dari jabatannya.

Koordinator aksi, Aulia Azis, menjelaskan mereka melakukan aksi, untuk meminta transparasi dana. “Selama ini kami dibodohi dan dirugikan pihak universitas yang tidak melibatkan mahasiswa secara langsung,” ujarnya.

Ia menuturkan salah satu contoh kasus yang terjadi, adalah penyelenggaraan orientasi pengenalan (Ospek) calon mahasiswa baru yang dulunya diadakan oleh mahasiswa, namun tahun ini diambil alih oleh pihak rektorat.

Permasalahan lain yang ada adalah kebebasan mahasiswa UMP mulai dikekang sementara masalah pendanaan cenderung ditutupi. “Mahasiswa harus tahu masalah dana, kami punya lembaga kemahasiswaan. Apabila rektor tak sanggup memimpin lebih baik diturunkan,” tegas dia.

Pembantu Rektor (PR) III UMP, Abid Jazuli yang berdialog dengan mahasiswa saat itu mengatakan dana kemahasiswaan yang tidak diambil tahun ini, ia menjelaskan dana tersebut dialihkan ke anggaran universitas. Sementara masalah pengambilalihan ospek dari mahasiswa ke pihak rektorat, ia merasa adanya kesalah pahaman dari pihak mahasiswa. “Bagi kami Ospek itu tidak wajib, kami ingin ada pengenalan kampus,” tukasnya.

Teks     : Aminuddin

Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster