Derita Alini, Anak Penderita Atresia Ani (Tidak Punya Anus)-

 932 total views,  2 views today

Alini,-Anak-Penderita-Atresia-Ani-yang-butuh-pertolongan

Alini, Anak Penderita Atresia Ani yang butuh pertolongan

PALI | KS-Umurnya 9 tahun, kurus namun lincah. Wajahnya penuh keceriaan, tidak ada guratan derita. Meskipun seumur hidupnya ia menjadi manusia yang berbeda dari manusia lainnya.

Saat Kabar Sumatera,  berkunjung kerumahnya dibilangan Talang Tumbur, Kelurahan Talang Ubi Barat, Kecamatan Talang Ubi, KS mendapatinya sedang turun dari rumah dengan membawa mainan.

Wajahnya polos seperti anak-anak kebanyakan. Namun sorot matanya menyiratkan kecerdasan. Alini hanya menunduk sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali. “Alini tidak sekolah, ia malu karena sering diejek teman-temannya, karena tidak punya anus,” terang Ria Ibunya.

Begitu KS tawarkan apakah Alini mau sekolah? Alini langsung mengangkat wajah dan mengangguk. Tampak senyum manisnya merekah. “Alini mau sekolah, tapi malu diejek terus” ujarnya sambil memainkan jari mungilnya.

Menurut Ria, Alini sering pulang sambil nangis kalau diejek teman sepermainannya. “Temannya sering ngejek. Makanya dia takut sekolah,” terang Ria.

“Itulah kak, Alini pernah nanya, Mak kapan Alini operasi biar punya anus, Alini mau sekolah seperti ayuk Rindi,  mendengarnya kadang kami ingin nangis,” tambahnya.

Saat KS ingin melihat kantung kotoran yang menempel diperutnya, Alini berontak. Sepertinya ia malu. “Dia malu dengan penyakitnya,” ungkapnya.

Alini, bocah kelahiran Talang Ubi 21 Januari 2004 lalu, meskipun wajahnya penuh keceriaan, namun jangan terkecoh. Sejak lahir, Alini tidak memiliki anus (Atresia Ani). Untuk kebutuhan Buang Air Besar (BAB), Alini mengandalkan kantung plastik yang menempel di perutnya.

Bila saat mau BAB, kotorannya ia keluarkan melalui selang yang ada diperut, kemudian ditampung dikantung plastik.

Menurut Ria (30), ibu Alini, sejak dilahirkan Alini sudah tidak mempunyai anus. Ketika berumur empat bulan Alini dioperasi, untuk membuat saluran pembuangan BAB melalui dinding perutnya. Saat berumur 2,5 tahun, Alini kembali dioperasi untuk membuat lubang anus. Keduanya dilakukan di RS Muhammadiyah Palembang.

“Dan saat ini kembali akan dioperasi untuk memfungsikan lubang anus yang baru dibuat tersebut. Namun kali ini operasinya akan dilakukan di Rumah Sakit Muhammad Husin Palembang,” ucapnya.

Pekerjaan Sawiran, ayah Alini sebagai buruh penyadap karet tentunya tidak mencukupi untuk membiaya pengobatan yang jumlahnya puluhan juta itu. “Kalau mau uang sendiri kami tidak mampu pak. Untungnya aa berobat gratis. Tapi kami butuh biaya ke Palembang dan makan selama menunggu disana,” keluh Sawiran.

Menurut Sawiran, selama beberapa bulan terakhir ia sudah 14 kali melakukan kontrol ke RSMH. “Kalau maunya dokter 17 kali kontrol baru operasi. Tapi setelah 14 kali, dokternya bilang tinggal nunggu jadwal. Anehnya waktu kami datang ke rumah sakit, dokter lainnya bilang kami arus kontrol lagi. Kami bingung pak harus bagaimana. Sementara biaya ke Palembang itu sangat besar sekali. Mana harga karet lagi murah begini,” ujarnya sambil menunduk.

Sawiran saat ini menyadap karet milik tetangganya. Hasil sadapan setelah dijual, uangnya dibagi dua dengan pemilik lahan. Untuk biaya ke Palembang ia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit. Bila dianggap cukup baru ia mengajak Alini kontrol ke dokter. Maklum saja, jarak Talang Ubi-Palembang 160km. Naik angkutan umum jenis travel menghabiskan uang sedikitnya Rp 150ribu, belum termasuk ongkos makan.

“Kalau dihitung-hitung, sudah puluhan juta uang habis. Kadang bingung juga, bisa mengeluarkan uang begitu banyak. Tapi itulah tadi, Allah itu kaya. Ada-ada saja jalan memperoleh uang. Entah upahan membersihkan kebun atau ada yang berbaik hati memberi sumbangan,” jelas Sawiran.

Kini, Sawiran dan Ria hanya bisa berharap operasi secepatnya. Agar keinginan melihat Alini sekolah dapat terwujud.

“Beberapa waktu lalu, waktu dirumah sakit kami sempat dikunjungi Pak Heri Amalindo (Penjabat Bupati PALI, red). Alhamdulillah Pak Heri memberikan kami semangat untuk melihat Alini menjadi normal. Beliau juga memberikan sumbangan. Tapi itupun sudah habis dipakai ongkos berobat. Kini entah siapa yang mau peduli,” tambah Ria dengan lirih.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kab PALI, dr Hj Eni Zatila MKM saat dibincangi KS membenarkan kejadian yang menimpa warga diwilayah kerjanya. “Alini itu kalau dalam kesehatan menderita kelainan Atresia Ani. Yaitu tidak memiliki anus. Untuk mengatasinya memang harus melalui beberapa kali operasi,” jelas Eni.

Eni juga menambahkan, pihaknya sudah mendatangi rumah Alini. “Sebenarnya pihak rumah sakit sudah menjadwalkan operasi ketiga itu enam bulan setelah operasi kedua. Tapi pihak keluarga datang tiga tahun kemudian. Inilah yang menjadi kendala.” Tambah dia.

Keterlambatan ini bisa dimaklumi karena faktor dana. “Kita bisa maklumi, mungkin masalah ekonomi. Maklum saja dik, berobatnya gratis, antar jemput bisa pakai ambulan kita tapi keluarga yang nunggu kan butuh biaya juga, minimal untuk makan. Tapi kami akan koordinasi lagi dengan dokter bedah yang ada di Poli Bedah RS Arbain, mungkin ada jalan keluarnya,” terangnya.

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi abdillah

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster