Banyuasin Ditemukan Tiga Titik Hotspot

 176 total views,  2 views today

BANYUASIN/KS-Sepanjang tahun 2013, baru tiga  titik api (hotspot -red), di wilayah Kabupaten Banyuasin yang ditemukan. Titik tersebut muncul pada 22 Juni 2013 lalu di dua kecamatan yang berbeda, yakni Rantau Bayur dan Rambutan kemudian 20 Agustus di kawasan Tungkal Ilir.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun), Kabupaten Banyuasin, Ir Syuhada   mengatakan, hotspot di Kabupaten Banyuasin masih rendah dibandingkan Kabupaten dan kota lainnya di Provinsi Sumsel.

“Sepanjang tahun ini baru ada 3 titik yang terpantau dari peta sebaran titik api Dishutbun Provinsi Sumsel. Data yang kami terima, titik itu berasal dari tiga kecamatan berbeda yang banyak terdapat lahan baru dibuka, bukan hutan,” katanya.

Diduga, titik api tersebut berasal dari aktifitas pembukaan lahan yang dilakukan masyarakat setempat dengan cara membakar lahan yang dilakukan secara sengaja. Itu dibuktikan dengan padamnya titik tersebut satu hari kemudian, atau pada 23 Juni 2013.

“Satu hari padam, artinya itu dari aktifitas petani yang membuka lahan perkebunan, karena jika murni kebakaran lahan yang disebabkan alam, biasanya api bertahan 3-4 hari,” bebernya.

Aktifistas hotspot di Banyuasin di tahun ini, tidak begitu mengkhawatirkan, berbeda ketimbang tahun-tahun sebelumnya yang memiliki jumlah puluhan titik, terutama di kondisi cuaca yang ekstrem seperti saat ini.

“Kondisi ini disebabkan cuaca yang tidak menentu, disatu titik kadang ditemukan kondisi penghujan, sehingga lahan tidak mudah terbakar,” sambungnya.

Meski begitu, Dishustbun Banyuasin sendiri, setidaknya merilis sejumlah kecamatan yang rawan dengan kebakaran hutan, seperti di Kecamatan Tanjung Lago, Rantau Bayur, Tungkal Ilir, dan Makarti Jaya.

“Untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan ini, kami selalu berkoordinasi bersama Manggala Agni Pangkalan Balai, mereka punya 60 personel yang tersebar di 19 kecamatan, dan dilengkapi dengan mobil pemadam kebakaran (Damkar), dan Dishutubun Banyuasin selalu memonitor perkembangan hotspot ini,” bebernya.

Pihaknya juga melakukan langkah persuasif untuk pencegahan, menghimbau agar masyarakat Banyuasin  menghentikan aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.  Akibatnya sangat fatal, selain berpotensi terjadinya kebakaran lahan dan hutan, juga dapat memproduksi asap yang dapat menganggu kesehatan pernapasan.

“Kebiasaan membakar lahan ini yang harus kita rubah bersama-sama, untuk menghindari kebakaran hutan,” katanya.

Teks : Diding Karnadi

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster