Dulu Kaki Lima, Kini Toke Getah

 835 total views,  2 views today

Andes-Ara-Gumay-SE

Andes Ara Gumay SE

“Untuk jadi orang yang berhasil itu harus sabar, ulet, giat dan kerja keras tanpa malu melakukan apa yang dikerjakan. Asalkan itu baik, tidak menggangu orang lain, maka gunakanlah kesempatan yang guna maju ke depan. Juga jangan lupakan agama sebagai pedoman hidup kita di dunia ini,” demikian pesan Andes Ara Gumay kepada Harian Umum Kabar Sumatera, dalam sebuah kesempatan.

Sarjana ekonomi ini bercerita seputaran kehidupan masa kecilnya. Tak banyak yang mengetahui Andes—begitu ia biasa disapa, ekonomi keluarganya termasuk minim. Alhasil, beragam kisah hinaan dan cacian pun acapkali dilayangkan untuk si anak umang (yatim) ini. Namun begitu, sosok seoarang Andes kecil terobsesi untuk terus belajar, belajar, dan belajar.

“Hidup keluarga kami dulu cukup menyedihkan sekali. Ya, melarat, penuh cacian, dan hinaan. Apalagi ayah aku sudah meninggal dunia saat aku belum genap berusia setahun. Ibu aku adalah seorang janda ketika itu. Beliau sekaligus merangkap sebagai ayah untuk delapan anak-anaknya,” Andes mengenang.

Dengan mata berkaca-kaca, Andes melanjutkan, kala ia mulai beranjak anak-anak tak memiliki uang untuk bersekolah. Tak heran Andes pun kerap berganti dari satu sekolah ke sekolah lainnya.

“Pindah sana, pindah sini saat aku masih SD. Nah, barulah masuk SMU, aku jualan di kakai lima guna mencukupi uang sekolah,” katanya.

Uang hasil berjualan di tabung Andes. Sampailah ia pergi merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan kuliah di Taman Siswa Ki Hajar Dewantara. Uang kuliah sebagian dari hasil menabung dan selebihnya aku jual barang secara kredit,” ungkapnya.

Agaknya Andes memang berbakat soal berdagang. Berangkat dari jiwa interprenuer ini pula akhirnya yang membawa Andes untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Gajayana Malang. Di sanalah, ia  menekuni pengetahuan ekonomi sambil berjualan baju-baju demi untuk membayar kuliah saat itu.

“Uang tabungan dan uang kiriman dari orang tua dulu, saya modalkan untuk membeli barang-barang dan barang-barang yang saya beli di Yogyakarta, saya jual kembali. Itu saya lakukan sampai saya selesai kuliah,” cetus Andes.

Berbekal ilmu pengetahuan semasa berkuliah, pria kelahiran Pagaralam 24 Agustus 1960 ini memutuskan untuk pulang ke Kota Palembang. Sewaktu tiba di kota pempek ini, ia pun tak segan-segan untuk berjualan di kaki lima yang dia rintis dan jadi seorang agen sayur-mayur.

“Aku merintis dagang ini waktu berjualan kaki lima. Ke sana ke sini menjajakan dagangan di Pasar 16 Palembang. Dengan modal yang ada, aku modalkan untuk berdagang sayur sayuran. Sampai akhirnya, aku jadi agen sayur di daerah-daerah Sumatera Selatan hingga Jambi,” terangnya. Seraya menambahkan.

“Anda mungkin tak percaya apa yang aku lakukan saat menjadi agen sayur. Tiap malam sayur yang datang, saya kirim sendiri ke tempat langganan di daerah-daerah, bahkan aku sempatkan mengirim sendiri ke jambi. Pukul 01.00 dini hari, dengan mobil L 300, aku berangkat ke Jambi antar sayur. Hingga dari hasil itu, aku bisa beli truk sayur dan membantu keluarga. Semuanya itu berkat dari kegigihan dan kesungguhan untuk maju,” Andes menyampaikan.

Puluhan tahun Andes tekun berdagang sayur dengan sabar dan kerja keras. Itu semua tujuannya demi mewujudkan keinginannya membantu ekonomi keluarga. Dari hasil keringatnya, kini Andes pun berhasil menjadi seorang toke getah alias toke karet yang mumpuni di kawasan Gelumbang. Luas areal pertanamannya 20 hektar.

“Alhamdulillah, kalau dulu aku melarat sekarang aku bisa menikmati dari hasil kerja keras. Bersyukurnya aku dapat membuka lapangan kerja untuk orang-orang yang membantu usaha aku mewujudkan cita-cita menjadi pengusaha yang sukses,” ucapnya sambil berharap pembaca setia Harian Umum Kabar Sumatera agar teruslah berjuang guna mengapai sebuah cita.

TEKS/FOTO:AHMAD MAULANA

EDITOR:RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster