Dari Menjerit Hingga Banting Setir Jadi Tukang Ojek

 272 total views,  2 views today

antara

Ilst. | Antarafoto

BANYUASIN/KS-Anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dollar nampaknya berimbas pada sektor perkebunan. Harga karet kini anjlok dikisaran harga Ro 5.000 perkilogram.

Alhasil, banyak petani menjerit dengan adanya penurunan tersebut. Selain itu, petani juga banting setir dan lebih memilih mejadi tukang ojek.

Di Kabupaten Banyuasin misalnya, anjloknya harga komoditi karet dan sawit saat ini menyebabkan banyak petani banting stir menjadi  tukang ojek dan pencari ikan.

Menurut para petani, hasil yang didapat dari bertani karet tidak sebanting dengan kebutuhan yang ada. “Akibat tidak stabilnya harga karet dan sawit terpaksa saya  beralih   profesi jadi tukang ojek dan  mencari ikan,” kata Arman (37),   warga Kelurahan Kedondong Raye Kecamatan Banyuasin III, Kabupaten  Banyuasin, kemarin.

Ia menambahkan, penghasilan dari kebun karetnya belum memuaskan untuk kebutuhan sehari-hari. ” Yah dari pada anak dan istri tidak bisa makan terpaksa saya  banting stir menjadi tukang ojek dan pencari ikan,” keluh   Arman.

Menurutnya, sebelum anjlok, harga karet bisa mencapai Rp 15.000, namun saat ini hanya berkisaran  paling mahal  Rp 5000 untuk karet mingguan. Begitu juga untuk harga sawit yang semula bisa mencapai Rp 2000 perkilogram, saat ini hanya berkisaran Rp 700 perkilogram.

‘Saya berharap,  harga sawit dan karet secepat bisa stabil. Jika harga karet dan sawit stabi hidup kami,  Inysa Allah  tidak akan terpuruk,” tuturnya.

Hal yang sama juga menimpa petani karet di Kota Prabumulih, dimana harga karet juga sama mencapai Rp 5.000 perkilogram.

Pantauan Kabar Sumatera dibeberapa tempat yang biasanya mengumpulkan karet untuk ditimbang, terlihat sekali bahwa wajah-wajah yang tadinya ceria sekarang menunjukkan roman muka yang sangat kecewa.

Namun begitu para petani karet tersebut tetap menjual hasil karet yang mereka miliki karena apabila tidak dijual para petani tidak akan bisa mendapat rupiah untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

“Petani karet sangat mengeluh dengan anjloknya harga karet sekarang ini dan harga karet biasanya bisa mencapai Rp 15.000 – Rp 20.000,- namun sekarang ini jatuh hingga ke level Rp 5.000,-,” kata Wadi salah seorang petani karet saat ditemui Kabar Sumatera.

Warga mengharapkan agar pemerintah dapat memikirkan nasib petani karet kedepannya. “Sampai kapan harga karet akan begini terus dan kalau harga karet bisa melambung seperti yang sudah-sudah kami bisa menutupi kebutuhan rumah tangga kami,” urainya.

Anjloknya harga karet juga berdampak terhadap pusat perbelanjaan yang ada di Kota Prabumulih. Ini terlihat sekali karena biasanya para petani karet yang datang dari daerah selalu ramai-ramai berbelanja di Kota Prabumulih. Namun, sejak harga karet anjlok pasar Prabumulih terlihat sepi.

Teks : Diding Karnadi/Irsan Matondang

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster