Sidang Lanjutan money politik Pemilukada OKI

 141 total views,  6 views today

duiittt

Ilst. Net

Kayuagung, KS- Sidang lanjutan dugaan money politik dalam Pemilihan Umum Kepala daerah (Pemilukada), Bupati dan Wakil Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) yang digelar pada 6 juni 2013 lalu dengan terdakwa Kompol Sonny Triyanto SH SIK MH kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Kayuagung, Selasa (20/8) kemarin.

Dalam keterangannya, terdakwa Kompol Sonny Triyanto mengatakan, permintaan uang tersebut bukanlah insiatif sendiri melainkan permintaan para kepala desa melalui H Mahrim (saksi -red) yang memang dikenal terdakwa.

Padahal sebelumnya, terdakwa sengaja datang menemui saksi H Mahrim dikediamannya sebagai ketua forum Kepala Desa (kades) di Kecamatan Mesuji Makmur agar menyampaikan kepada para Kades lainnya di Mesuji Makmur  perihal koordinasi pengamanan Pemilukada ilkada sehingga berlangsung dengan luber, lalu disepakati agar dilakukan pertemuan.

“Awalnya saya hanya menemui ketua forum kades, saya sampaikan perihal pengalaman pilkada 2008 lalu yang sarat dengan kecurangan, akhirnya kades Mahrim menawarkan agar bertemu dengan kades lainnya, saat itu Ketua forum menyatakan supaya ada uang ganti transport, saat itu saya maklum dan menyerahkan uang sebesar Rp 20 juta dirumahnya, tetapi menurut ketua forum uang tersebut kurang, akhirnya uang tersebut saya ambil kembali.” Kata terdakwa didepan Majelis hakim yang diketuai Sobandi SH dengan hakim anggota Frans Efendi Manurung, SH  dan Iman Budi Noor, SH.

Dalam pertemuan di rumah makan Nuansa, Desa Tugu Mulyo Kecamatan Lempuing pada tanggal 4 juni 2013 sekitar pukul 20.00 wib, dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh 11 kades, satu mantan kades dan juga beberapa orang lainnya.

Dalam kesempatan tersebut terdakwa meminta kepada para kepala desa untuk memberikan konstribusi positif dalam pelaksanaan pilkada OKI dimana menghindari berbagai kecurangan sebagaimana pengalaman terdahulu seperti penggelembungan suara, surat suara yang rusak lalu  dicoblos.

“Setelah itu memang saya meminta doa restu dan dukungan untuk pasangan Nomor 4, sebagai anggota keluarga, namun bukan berarti saya meminta untuk memenangkan. Uang yang tadi 20 juta, kemudian saya tambah Rp 20 juta lagi dan selanjutnya menyerahkannya kepada H Mahrim yang saat itu serahkan kepada H Cekwan,” ujar Kompol Sonny.

Terdakwa juga membantah jika dirinya menjanjikan Mobil Avanza dan paket umroh bagi para kepala desa yang memperoleh suara terbanyak. Menurutnya, saat itu pembicaraan dalam keadaan bercanda dan main-main.

“Soal hadiah saat itu hanya bercanda pak hakim, sebab saya katakan kalau mobil tidak punya, sedangkan paket umroh saya saja belum berangkat, saat itu hanya guyonan pak,” elaknya.

Dalam kesempatan tersebut, terdakwa juga membantah barang bukti uang sebesar Rp 40 juta yang dihadirkan dalam persidangan, sebab uang miliknya diikat dengan karet tanpa ada kertas bertuliskan Bank Indonesia sebagaimana BB yang dihadirkan kepersidangan.

“Saya minta keadilan Pak Hakim, itulah yang sebenarnya saya lakukan jika saya berbohong maka saya siap mati hari ini.” tandasnya.

Sementara itu, dua saksi yang dihadirkan dalam persidangan tersebut yakni Tri Joko Kades Pematanang Bina Tani dan Alpian Kades Mukti Karya  mengakui mendapatkan uang sebesar Rp. 3,3 juta, menurutnya uang tersebut merupakan uang pengganti transport. “Kalau saya uangnya habis untuk berjudi pak.” Kata saksi Alpian.

Sementara itu saksi Tri Joko mengakui tidak mengetahui secara persis apa yang dibicarakan oleh para kepala desa dengan terdakwa, sebab saat itu dirinya berada didalam toilet saat pertemuan, namun dirinya juga mengakui menerima pembagian uang. “Uangnya saya gunakan untuk membeli HP baru.” terangnya.

Usai mendengar keterangan saksi, selanjutnya majelis hakim memberikan kesempatan kepada JPU apakah akan menghadirkan saksi tambahan atau tidak, namun jaksa menyatakan tidak ada lagi saksi yang akan dipanggil, demikian juga kuasa hukum terdakwa, Chairil Syah SH menyatakan tidak mengajukan saksi tambahan, karena tidak ada lagi saksi yang akan dihadirkan.

Hakim memberikan waktu selama satu minggu kepada jaksa penutut umum (JPU), Naimullah SH MH, Andi S, SH, dan rekan untuk membacakan tuntutan, sehingga sidang ditunda tanggal 27 Agustus 2013.

Sekedar mengingatkan, mantan Wakpolres OKI diseret ke pengadilan setelah mengumpulkan sekitar 11  kades di wilayah mesuji Makmur, Selasa  (4/6) malam,  kemudian para kades  itu  diminta saat hari pencoblosan agar mencoblos salah satu calon bupati OKI, yang didukungnya, dengan memberikan uang Senilai Rp 40 juta.

Kemudian aksi Kompol Sonny tersebut diketahui dan  dilaporkan ke Panwaslu Kabupaten OKI Oleh Kades Mujiat, Panwaslu Kabupaten OKI yang menerima laporan tersebut langsung memprosesnya berkoordinasi dengan Bawaslu Provinsi Sumsel, hingga akhirnya Wakapolres OKI di bawa ke Polda sumsel dan sempat Menjalani pemeriksaan di Bid Propam Polda Sumsel.

Setelah diperiksa oleh bidang Propam Polda Sumsel dan Gakkumdu karena diduga terlibat  Money Politik di Mesuji Makmur dalam Pemilukada Kabupaten OKI.  Pada hari Jumat (7/6), Kompol Sonny Triyanto S.IK langsung di copot dari jabatanya, sebagai Wakapolres OKI dan dipindahkan ke Dit Samapta Polda Sumsel.

Posisi yang ditinggalkan Sonny diisi oleh Kompol I Made Sinar Subawa yang sebelumnya menjabat sebagai Kasat Intel Polresta Palembang. Dengan demikian Kompol Sonny hanya menjabat sebagai wakapolres OKI selama 2 bulan, terhitung sejak menjabat pada tanggal 2 April 2013.

Teks : Emil Hidayat

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster