Pemimpin Suka Black Campaign tak Layak Dipilih

 206 total views,  2 views today

Pemimpin-Suka-Black-Campaign-tak-Layak-Dipilih

Ilst. Black Campign

PALEMBANG, KS-Menjelang pemungutan suara ulang (PSU) pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sumatera Selatan (Sumsel), 4 September mendatang, aksi black campaign (kampanye hitam) yang menyudutkan calon gubernur (cagub) incumbent, Alex Noerdin, marak terjadi.

Aksi itu diduga dilakukan oleh salah satu cagub Sumsel, melalui tim pemenangannya. Aksi ini menurut pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Husni Thamrin, menunjukkan kalau cagub tersebut menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan.

“Cara-cara seperti black campaign, kampanye terselubung termasuk bagi-bagi sembako dan lainnya adalah cara-cara yang tidak patut dilakukan. Harusnya, bertarung secara sehat tanpa harus saling menjelek-jelekkan. Pemimpin yang suka melakukan black campaign itu, tak layak untuk dipilih,” kata Husni yang dibincangi, Selasa (20/8).

Memang kata dosen pasca sarjana (PPS) Unsri ini, dalam politik memang segala cara bisa ditempuh oleh seorang calon pemimpin untuk memenangkan sebuah pertarungan politik.

Namun pola-pola penyebaran kampanye hitam, yang bertujuan untuk melemahkan pihak lawan, dan berharap dapat memberikan kemenangan bagi pihak penyebar kampanye hitam itu, dapat dikategorikan sebagai fitnah.

“Sehingga calon pemimpin yang melakukan black campaign, menurut saya, adalah calon pemimpin yang tak layak untuk dipilih, karena cenderung menyebar fitnah,” sebut Husni.

Ia menyebut, pada dasarnya praktik-praktik kampanye hitam maupun negatif campaign pada satu proses pemilukada memang tak terhindarkan,  dan seolah menjadi satu hal yang wajar saja dilakukan.

Hal ini, imbuh Husni Thamrin, merupakan akibat dari minimnya edukasi politik dan moral masyarakat, yang diberikan oleh para calon pemimpin di negeri ini. Sehingga menyebabkan masyarakat juga, cenderung bersikap transaksional, menempatkan dirinya pada satu proses berdemokrasi di negeri ini.“Inilah, sisi negatif dari politik kita. Karena batas-batas etika dalam berpolitik selama ini, memang tak pernah dibangun,” ucapnya.

Sebelumnya Direktur Eksekutif Pusat Kajian Kebijakan dan Pembangunan Strategis (Puskaptis),Husin Yazid menyebut,  black campaign bukanlah cara-cara elegan yang patut dilakukan seorang calon pemimpin dalam mencari kemenangan.

“Cara-cara seperti itu, tidak mendidik masyarakat. Black campaign, menimbulkan banyak kerugian. Pada jangka pendek, bisa menjadi bumerang bagi calon yang menyebarkan kampanye hitam itu karena akan membuat masyarakat tidak suka. Karakter masyarakat kita, cenderung tidak suka dengan orang yang menyebarkan fitnah,” jelas Husin beberapa waktu lalu.

Selain itu pada jangka panjang, kampanye hitam ini bisa menimbulkan masyarakat skeptis. Sehingga mereka enggan menggunakan hak konstitusinya, inilah yang menyebabkan terus menurunnya partisipasi masyarakat untuk memilih dalam setiap pertarungan politik baik pemilukada maupun pemilu.

Teks    : Dicky Wahyudi

Editor  : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster