Riverine Culture yang Hilang

 212 total views,  2 views today

rmh-rakit-1

Ilst. rumah rakit

PALEMBANG, KS-Sejak lama, Kota Palembang dikenal dengan julukan Venesia dari Timur. Julukan ini disandangkan ke kota empek-empek, karena banyaknya anak sungai yang menginduk ke Sungai Musi di Palembang.

Sehingga masyarakat Palembang juga dikenal sebagai masyarakat berkebudayaan sungai (riverine culture). Namun kini, kebudayaan tersebut seakan terlupakan. Sungai yang menjadi urat nadi di Palembang belum termaksimalkan bahkan cenderung terpinggirkan.

Pengamat budaya Sumsel Febri Al Lintani kepada Kabar Sumatera menyebut, masyarakat Palembang dulunya adalah masyarakat yang berkebudayaan sungai.

Itu karena, kehidupan masyarakat yang tidak terlepas dari sungai. “Ada ratusan anak Sungai Musi di Palembang saat itu, namun kini sudah banyak menghilang. Itu karena kita melupakan, kebudayaan kita sebagai masyarakat yang berkebudayaan sungai,” sebutnya beberapa waktu lalu.

Sungai Musi, kini kian tercemar. Sampah tak jarang menumpuk dipinggir sungai, hingga membuat sungai menjadi dangkal. Itu semua sebut Febri, dikarenakan hilangnya inner city yang terpusat di Sungai Musi.

“Kalau mau mengembalikan kebudayaan sungai, kembalikan budaya sungai tersebut. Setidaknya dengan membangun rumah dan lainnya, tidak lagi membelakangi sungai namun harus menghadap sungai,”sebutnya.

Dengan begitu, akan timbul budaya malu untuk membuang sampah ke sungai sebab sungai menjadi halaman depan rumah. “Namun ini perlu dukungan dan komitmen kuat dari pemerintah, dengan membuat peraturan daerah (perda) yang melindungi sungai,” saran Febri.

Sementara itu Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sumsel menyebut, tingkat pencemaran fecalcoli di Sungai Musi cukup tinggi. Faktor utamanya, adalah banyaknya kotoran manusia atau hewan yang dibuang ke sungai kebanggan masyarakat Kota Palembang ini. Bahkan pencemaran fecal coli tidak hanya terjadi di perairan Sungai Musi saja, tapi telah meluas ke 12 titik sungai yang ada di Sumsel.

“Data BLH Sumsel, dari 72 daerah aliran sungai (DAS) Sungai Musi yang dipantau ada 28 DAS yang tercemar. Pencemarannya katagori sedang, air Sungai Musi masih layak untuk bahan baku air minum,” kata Kepala BLH Sumsel, Bakhnir Rasyid, beberapa waktu lalu.

Selain fecal coli, sampah rumah tangga juga dominan mencemari sungai tersebut. “Hasil pengujian kita pada 2011, dari sample air yang diambil di kawasan Ampera dan Sungai Ogan, menunjukkan status mutu kualitas air menurut sistem nilai storet berada pada minus 50. Sementara di 2010, nilai storet pada angka minus 24,” jelas Kabid Perlindungan, Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup pada BLH Sumsel, Hadenli Ugihan.

Dari pemeriksaan kualitas air skala minus satu sampai minus 10 dikatagorikan pencemaran ringan. Sedangkan skala minus 11 sampai minus 30 di katagorikan pencemaran sedang, sementara pada skala minus 30 keatas maka dikatagorikan pencemaran berat.

Teks    : Dicky Wahyudi

Editor  : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster