Memperbaiki Kualitas Pendidikan Kita

 164 total views,  2 views today

Oleh Sarono P Sasmito

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir

DI  lingkungan Asia, negara manakah yang sekarang memiliki sistem pendidikan  terbaik? Apakah Jepang yang oleh masyarakat di dunia sering disebut dengan negara  pasca industri? Apakah Singapura “negara kota”  yang sekarang menjadi pusat bisnis  di seluruh dunia?  Apakah Cina Daratan yang memiliki penduduk paling tinggi  jumlahnya dan paling heterogen karakteristiknya? Ataukah mungkin saja Indonesia   yang sampai detik ini masih terengah-engah untuk keluar dari krisis multidimensi? Di saat memperingati HUT ke-68 Republik Indonesia relevan kiranya kalau kita introspeksi masalah kualitas pendidikan kita dewasa ini.

Sistem pendidikan yang terbaik di antara  negara-negara Asia ternyata dimiliki oleh Korea Selatan; demikian setidak-tidaknya  hasil studi yang diadakan oleh  Political and Economic Risk Consultancy (PERC),  lembaga in-ternasional yang bermarkas di Hong Kong.

Kalau Korea Selatan  memiliki sistem pendidikan yang paling baik, lalu negara  mana yang memiliki sistem pendidikan yang paling buruk? Negara itu adalah Indonesia; dengan kata lain sistem pendidikan di Indonesia ternyata paling buruk di antara negara-negara di Asia.

Seperti diketahui bersama PERC baru saja mempublikasi hasil studi yang dilakukan di 12 negara.  Setelah menganalisis data yang masuk maka disimpulkan peringkat ke-12 negara tersebut menurut validitas sistem pendidikannya. Peringkat  satu sampai enam masing-masing ialah Korea Selatan, Singapura, Jepang, Taiwan, India, dan Cina; sementara peringkat tujuh  sampai dua belas masing-masing ialah Malaysia, Hong Kong, Filipina, Thailand, Vietnam dan Indonesia. Ternyata Indonesia di posisi paling bawah. Dibanding Malaysia

Ada yang sangat menarik  dan perlu dicermati dari publikasi PERC tersebut;  yaitu negara jiran Malaysia yang dalam membangun sistem  pendidikannya pernah minta bantuan dari Indonesia ternyata sekarang sudah  “leading” dari kita. Dengan  skor 4,41 Malaysia ada di ranking tujuh;  sementara itu Indonesia dengan skor 6,56  hanya ada di ranking dua belas.  Kiranya perlu dijelaskan bahwa responden dalam 2 studi PERC diminta memberikan skor di antara 0 s/d 10; skor 0 diberikan untuk  negara yang sistem pendidikannya dianggap paling baik dan skor 10 diberikan untuk negara yang sistem pendidikannya dianggap paling buruk.

Jauhnya selisih peringkat antara Malaysia dengan Indonesia, antara tujuh dengan  dua belas, memang sedikit  surprise karena hal itu menunjukkan jauhnya jarak  kualitas antara sistem pendidikan di antara kedua negara.        Tanda-tanda mengenai hal tersebut  sebenarnya sudah dapat dicermati dari

beberapa publikasi sebelumnya. Sebagai misal, publikasi  United Nations  Development Programme (UNDP) tahun 2000 lalu mendudukkan posisi Indonesia di  ranking 109 dari 174 negara dalam hal kualitas pembangunan manusia  di mana salah satu indikatornya adalah pendidikan; sementara Malaysia sudah ada di ranking 61. Di dalam laporan AsiaWeek  yang dilansir beberapa waktu lalu  mendudukkan perguruan tinggi . Malaysia seperti University of Malaya,  Universiti Putra Malaysia serta Universiti

Sains Malaysia masing-masing di peringkat  47, 52, dan 57.  Di sisi lainnya Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada,  Universitas Diponegoro,  serta  Universitas Airlangga masing-masing hanya di peringkat 61, 68, 73, dan 75.

Itu berarti dari berbagai sumber yang berbeda pun ternyata menunjukkan kinerja pendidikan Malaysia memang lebih baik daripada Indonesia; pada hal kinerja pendidikan merupakan cerminan dari mutu sistem pendidikan.  Artinya, di mata masyarakat internasional sistem pendidikan di Malaysia lebih bagus daripada Indonesia.

Bagi masyarakat Indonesia, keadaan seperti itu tentu sangat membanggakan dan sekaligus menyedihkan mengingat secara historis kita ikut membangun sistem pendidikan di Malaysia.  Tentunya kita  masih ingat di sekitar dua atau tiga dasa warsa yang silam Malaysia meminta bantuan Indonesia agar mengirim guru-guru yang berkualitas untuk mengajar sekolah-sekolah di Malaysia.

Para dosen dan peneliti Indonesia  juga dimohon bantuannya untuk mengembangkan berbagai program studi, jurusan dan bahkan fakultas pada beberapa perguruan tinggi di Malaysia.  Di sisi yang lain banyak pemuda Malaysia  yang disekolahkan dan dikuliahkan di Indonesia; antara lain di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ITB Bandung,  dan IPB Bogor.

Dalam konteks ini  dapat diibaratkan  Indonesia adalah gurunya Malaysia; atau Malaysia adalah muridnya Indonesia.  Dengan demikian kita ini layak bangga  karena memiliki murid yang lebih maju dari kita sendiri; sementara pada saat yangbersamaan kita pantas sedih karena majunya sang murid harus mengorbankan diri kita.

Lepas dari itu semua, kita ini harus dapat mengambil hikmah atas kejadian tersebut.  Apa rahasianya hingga Malaysia dapat maju pesat meninggalkan kita?  Di mana kata kuncinya sehingga Malaysia dapat mengembangkan sistem pendidikan yang lebih bagus daripada Indonesia?

Salah satu kata kunci keberhasilan Malaysia dalam membangun sistem 3pendidikan adalah adanya konsistensi dari para pemimpinnya untuk memperhatikan pendidikan.  Semenjak tahun 60-an  yang lalu ada semacam komitmen tak tertulis di antara para pemimpin Malaysia untuk memperhatikan pendidikan rakyatnya. Mereka itu sadar betul bahwa hanya dengan cara meningkatkan keterdidikan rakyat maka bangsa Malaysia sanggup berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain yang lebih

dulu maju. Konsep Malaysia 2010 dan SMART Malaysia mencerminkan demikian besarnya perhatian para pemimpin untuk mencerdaskan kehidupan rakyatnya.  Dan karena itulah sistem pen-didikan di Malaysia mulai diakui di dunia internasional.

Tentang buruknya sistem pendidikan di Indonesia, yang nota bene lebih buruk dari Malaysia, ternyata direspon secara positif oleh berbagai kalangan.   Kalangan pendidikan secara jujur mengakui dan dapat menerima hasil studi PERC  bahwa sistem pendidikan di Indonesia adalah buruk,  bahkan paling buruk di antara negara-negara Asia.

Buruknya sistem pendidikan di Indonesia,  tidak dapat  dilepaskan dari kondisi sosial politik yang terjadi di negara kita. Suramnya pendidikan nasional sangat terkait dengan keadaan sosial politik bangsa kita;  artinya  keadaan sosial politik memberikan dampak luar biasa  terhadap kinerja dan sistem

pendidikan nasional. Pendidikan memerlukan rasa aman dalam pelak-sanaannya, sementara itu keadaan sosial politik kita sangat kurang kondusif untuk tuntutan seperti itu.

Benar bahwa pendidikan berkait dengan keadaan sosial politik suatu negara; namun keterkaitannya tidak searah (asymmetrical relationship) tetapi lebih bersifat dua arah atau timbal balik antara yang satu dengan lainnya (reciprocal relationship). Pada satu sisi, kondisi sosial politik sangat  berdampak pada sistem dan pelaksanaan pendidikan;  sementara itu pada sisi lain sistem dan pelaksanaan pendidikan juga ikut menciptakan kondisi sosial politik itu sendiri.

Di dalam konteks Indonesia; kondisi sosial dan situasi politik yang “amburadul” beberapa waktu lalu sudah barang tentu memberi kontribusi terhadap buruknya sistem pendidikan nasional kita. Para pemimpin yang asyik bermain politik dengan  melupakan urusan pendidikan telah menyebabkan terjadinya sistem pendidikan yang tidak cerdas.  Pada sisi yang lain,  sistem pendidikan nasional kita yang gagal mempersembahkan generasi  yang tangguh telah menyebabkan kondisi sosial dan

situasi politik yang “amburadul”. Karena kualitas hasil didik kita hanya pas-pasan maka mereka tidak mampu bermain politik secara apik dan mengesankan.

Itu berarti,  kalau kita ingin memperbaiki sistem pendidikan maka situasi sosial dan kondisi politik kita harus kondusif terhadap hal itu. Dalam hal ini para pemimpin sosial dan elite politik memiliki kesempatan yang sangat signifikan  untuk menciptakan sistem pen-didikan yang lebih baik. Hal ini lebih meyakinkan kita bahwa untuk menciptakan sistem pendidikan yang baik tidak bisa hanya ditentu-kan

oleh para pakar dan praktisi pendidikan itu sendiri; melainkan ditentukan oleh 4segenap unsur masyarakat, termasuk para pemimpin sosial dan elite politik. Moga menjadi renungan kita di saat anak-anak generasi penerus kita memulai belajar lagi setelah libur panjang ini.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster