Idul Fitri dan Silaturahmi

 180 total views,  2 views today

OLEH SARONO P SASMITO

MESKI sudah berlalu beberapa hari dari tanggal 1-2 Syawal 1434 Hijriah. Namun suasana Idul Fitri hingga hari ini masih terasa. Idul Fitri yang berarti kembali kepada fitrah, kepada kesucian. Kenapa? Karena ada hubungan selain muamalah, manusia melakukan hubungan yang menjadi tanggung jawab Allah SWT. Puasa, bukan hanya badaniah, melainkan juga rohaniah dan lebih mengedepankan jiwa.

Dalam Hadis Qudsi, Allah berfirman: “Semua perbuatan anak Adam untuk dia (manusia), kecuali puasa untuk-Ku dan Aku yang memberikan ganjarannya.”

Arti puasa itu, jiwa mereka yang berpuasa dengan keimanan. Maka, mereka itu diampuni segala dosa-dosanya, termasuk yang telah lalu. Jadi, selesai Ramadhan, mereka bebas segala dosanya dengan Allah.

Kemudian, dalam hal hubungan manusia dengan sesama manusia, maka mereka melakukan silaturahmi, saling bermaaf-maafan, bergembira-ria, dan saling mengunjungi, termasuk para pemudik yang mudik untuk bersilaturahmi kepada sanak keluarga dan sesamanya. Maka itu, pada Hari Raya Idul Fitri, kita menjadi orang baik. Makna baik adalah secara individu dan sosial, dan menjadi orang saleh secara individu dan sosial. Kala itu, kita akan menjadi diri kita sendiri. Harapannya dilakukan secara terus-menerus pada masa-masa berikutnya.

Sebelum merayakan Idul Fitri, dilaksanakan zakat fitrah sebagai wujud kepedulian terhadap sesama. Masih dalam suasana Idul Fitri, puasa disambung dengan puasa Syawal atau dikenal dengan puasa enam hari. Jika hal tersebut dilakukan, itu sama artinya dengan puasa selama satu tahun.

Memang Idul Fitri di Indonesia berbeda dengan di Arab Saudi. Di negeri kita, silaturahmi pada Idul Fitri menjadi lebih meriah dan semarak karena diwarnai adat dan budaya tingginya kebersamaan yang membuat suasana menjadi lebih akrab. Di Mekah dan Madinah, sesudah bersalam-salaman, tidak ada lagi perayaan.

Makna kontekstual Idul Fitri itu tentu akan lebih memiliki nilai ketika diimplementasikan dalam kehidupan berikutnya setelah Hari Raya Idul Fitri. Pada Idul Fitri itu, umat Islam mempererat persaudaraan dengan silaturahmi antar-sesama. Tentu saja ini muncul dari ibadah puasa Ramadhan tersebut, dan dalam tatanan hidup bernegara, maka seluruh komponen anak bangsa dapat berbuat yang terbaik demi membangun bangsa dan negara ke depan.

Terwujudnya kedamaian dalam persatuan adalah tujuan yang harus dicapai. Semua itu akan bisa terwujud apabila seluruh anak bangsa berani berkompromi untuk tidak memaksakan kehendak. Bangsa ini harus terbiasa dengan meninggalkan sifat egois demi kepentingan pribadi dan kelompok. Itulah makna zakat yang ditunaikan umat Muslim setelah berpuasa satu bulan lamanya. Minal Aidin Wal Faizin. Taqobalallahu mina wa minkum….





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster