1000 Ton Sampah Hasilkan 480.000 KWH

 391 total views,  2 views today

sampah

Tumpukan Sampah yang ada di slah Satu Jalan di Palembang | Bagus KS

PALEMBANG, KS-Sampah menjadi salah satu pekerjaan rumah, yang tidak pernah berhasil dituntaskan oleh kota-kota besar di Indonesia termasuk Palembang.  Namun kedepannya persoalan itu nampaknya bisa diselesaikan.

Sebab tumpukan sampah ini, bisa diolah menjadi energi listrik. Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang sendiri, sudah menggandeng PT Solid Waste Management (SWT), untuk pengelolaan sampah itu.

Untuk mengelola sampah menjadi energi listrik ini menurut Direktur Utama PT SWT Indonesia, Andi Edy Bintang, sudah disiapkan investasi sebesar Rp1,3 trilyun. Dana sebesar itu, dipakai untuk mendatangkan teknologi  insenerator persampahan di metropolis.

“Kami menawarkan pengelolaan sampah yang efektif, karena tumpukan sampah yang ada tidak perlu dilakukan pemilahan dan tidak memakan banyak lahan,” kata Andi yang dibincangi usai melakukan paparan ke Wali Kota Palembang, Selasa (13/8) di Ruang Prameswara, Pemkot Palembang.

Ia menyebut, SWT menawarkan kerjasama pengelolaan sampah dengan Pemkot Palembang selama 30 tahun dengan sistem Built, Operate and Transfer (BOT). Maksudnya, PT SWT akan melakan pengelolaan sampah di Palembang termasuk pemanfaatan hasil pengelolaan itu selama 30 tahun kedepan, setelah itu pengelolaanya diserahkan ke pemkot.

Dia menyebut, teknologi pengelolaan sampah melalui insenerator tersebut memiliki banyak keuntungan. Selain tidak perlu memilah sampah dan lahan yang luas, juga dengan semakin banyak sampah akan semakin baik.

“Dengan teknologi ini, 1000 ton sampah dapat menghasilkan 480.000 kwh listrik dan 20.000 pcs batu bata. Energi listrik yang dihasilkan ini, akan ditawarkan ke PT PLN untuk pemanfaatannya dengan harga per kwh nya Rp1.325,”bebernya.

Menurutya, teknologi ini terbilang baru di Indonesia. Namun  sebut Andi, banyak kota di Indonesia, sedang melalui proses perizinannya untuk penerapan teknologi itu. Pengelolaan sampah ini tegasnya, sudah terbukti karena telah puluhan tahun dilakukan di China serta dana investasi juga berasal dari China.

“Di Indonesia memang belum ada, tetapi seperti Jakarta dan Pekanbaru sedang melakukan perizinan dan telah dilakukan selama 40 tahun. China merupakan negara pertama menggunakan teknologi ini,” ucapnya.

Ia menambahkan,  jika Palembang nantinya bekerjasama dengan mereka tidak hanya sampah saja yang akan dikelola tetapi juga kebersihan jalan dan lingkungan sekitar. Sebab PT SWT sebutnya, akan menyediakan berbagai fasilitas yang memadai.

“Dengan asumsi sampah yang dihasilkan di Palembang sebanyak 800 ton perhari, kita akan menyediakan armada dan alat pengakutan sampah sebanyak 112 unit, yang masing-masingnya bisa mengangkut 2,5 ton satu trip,” imbuhnya.

Selain itu PT SWT juga akan menyediakan 15 unit mobil penyiram jalan, 17 unit mobil penyapu jalan,  10 unit mobil crame untuk pemotong kayu dan 20 unit perahu untuk pengangkut sampah di sungai.  Petugas kebersihan juga bakal mendapatkan fasilitas, yakni 3.795 set pakaian dan sepatu, dan mess untuk karyawan yang bisa menampung 1.300 karyawan.

Dari investasi ini sambungnya, juga akan membuka lapangan kerja. Sebab PT SWT membutuhkan tenaga kerja sebanyak 1.265 orang terdiri dari sopir sebanyak 340 orang, 5 orang pengawas, 920 orang operator lapangan, dengan gaji sekitar Rp2.500.000,00 untuk setiap karyawan

“Investasi ini murni dari uang kita, tidak ada uang pemerintah sepeserpun. Gaji karyawan juga berasal dari PT SWT dan retribusi yang akan dikenakan serta penjualan listrik,” terangnya

Dia menambahkan, pengelolaan ini membutuhkan 15-20 hektare lahan dan biaya retribusi sebesar Rp40.000per bulan untuk warga Palembang, ruko Rp50.000 per bulan, hotel bintang lima Rp5.000.000, bintang empat Rp4.000.000, bintang tiga Rp3.000.000 bintang dua Rp2.500.000, perkantoran mulai Rp500.000 sampai Rp1.000.000, pasar tradisonal Rp15.000, industri besar hingga sedang Rp 1.500.000– Rp2.000.000, sekolah Rp500.000, dan kampus Rp2.000.000.

“Nilai retribusi ini masih ditawarkan dan bisa berubah, kami ingin melakukan investasi di Kota Palembang karena ingin mengelola sampah dengan baik sekaligus limbah B3 dan umum yang ada. Proses tender sekitar 3 bulan dan aplikasinya sekitar dua tahun mendatang,” ujarya.

Teks    : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster