Tolak Pemimpin dari Keluarga Koruptor

 321 total views,  2 views today

demo

puluhan massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Bangsa (FKMPB) Sumsel , Kamis (1/8), saat mendatangi DPRD Sumsel.

PALEMBANG, KS-Suhu politik di Sumatera Selatan (Sumsel), kian memanas menjelang pemungutan suara ulang (PSU) pada pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Sumsel, 4 September mendatang.

Selain terjadi kampanye terselubung,  juga terjadi aksi black campaign untuk menjatuhkan kredibilitas dan populeritas salah satu pasangan calon di mata masyarakat, melalui pesan singkat berantai, iklan di media massa dan spanduk berisikan tudingan.

Kini berkembang pula, penolakan  terhadap pasangan calon gubernur (cagub)-calon wakil gubernur (cawabup) Sumsel dari keluarga koruptor. Ajakan ini disampaikan puluhan massa yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Bangsa (FKMPB) Sumsel , Kamis (1/8), saat mendatangi DPRD Sumsel.

Koordinator aksi , Asma Wijaya mengatakan masyarakat harus menjadikan korupsi sebagai musuh bersama. “Korupsi adalah kejahatan luar biasa, yang harus dilawan. Karena korupsi merusak semua tatanan kehidupan di negeri ini,”kata Wijaya, Kamis (1/8) dalam orasinya.

Sebab itu masyarakat harusnya, jangan pernah mau berkompromi dengan pelaku korupsi. Siapapun dia, jika melakukan korupsi harus menjadi musuh bersama bagi masyarakat.

“Memilih calon pemimpin dari keluarga koruptor, sama saja kita berkompromi dengan korupsi. Itu artinya, kita mengizinkan korupsi terjadi di Sumsel,” ucapnya.

Mereka juga mengkritik kampanye hitam, yang diduga salah satu pasangan calon tersebut. Black campaign itu sebut Wijaya, sudah mulai merebak menjelang PSU, 4 September mendatang.

Itu menurutnya, ditunjukkan dengan penyebaran short message service (SMS) berantai, iklan putusan MK di yang dipasang salah satu pasangan calon di surat kabar lokal sampai dengan pemasangan spanduk yang mendeskreditkan salah satu pasangan calon.

“Cara-cara itu, bukan cara ksatria. Masyarakat Sumsel menginginkan pemimpin yang bersih, bukan pemimpin yang bisa melempar batu sembunyi tangan. Cara-cara seperti itu, sama saja mengotori semangat berdemokrasi,” katanya.

Karena itu ia menghimbau kepada semua pasangan calon, untuk stop melakukan black campaign. “Berkompetisi lah secara sehat, tidak perlu saling menjelekkan. Biarkan masyarakat yang menilai dan memilih, mana pemimpin terbaik menurut mereka,” ungkapnya.

Mereka juga mendesak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Sumsel untuk bertindak tegas, terhadap berbagai bentuk pelanggaran itu. “Kami menuntut Bawaslu Sumsel melakukan pengusutan dan menindak tegas bentuk-bentuk kampanye hitam, yang sedang marak,” tukasnya.

Teks   : Dicky Wahyudi
Editor  : Imron Supriyadi





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster