Tantangan Berat Generasi Penerus

 298 total views,  2 views today

generasi

OLEH SARONO P SASMITO

DALAM suasana Ramadhan generasi penerus kita yang berada di jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi masih terus berjibaku di pelajarannya masing-masing. Kita bersyukur karena meski dalam suasana Ramadhan mereka justru makin bersemangat untuk terus membina diri dan meningkatkan kapasitas masing-masing. Kemudian tak lama lagi menjelang Idul Fitri 1434 Hijrah mereka akan menjalani libur lebaran.

Dalam kondisi demikian, saat ini masih sangat relevan kalau kita introspeksi betapa generasi penerus kita menghadapi tantangan berat saat ini dan mendatang.  Indonesia harus mampu menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang berkualias dan andal melalui pelatihan keterampilan dan wirausaha guna menghadapi datangnya bonus demografi pada tahun 2020-2030.

Apalagi Kabar Sumatera beberapa hari lalu juga melansir bakal terjadinya ledakan penduduk di Palembang Sumatera Selatan. Dalam konteks nasional, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal  mengemukakan, bonus demografi dapat menjadi anugerah bagi bangsa Indonesia, dengan syarat pemerintah harus menyiapkan generasi muda yang berkualitas tinggi SDM-nya melalui pendidikan, pelatihan, kesehatan, penyediaan lapangan kerja, dan investasi.

Bonus demografi, menurut Fasli Jalal yaitu melimpahnya jumlah penduduk produktif usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen atau mencapai 160-180 juta jiwa pada 2020, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) yang akan terjadi pada tahun 2020-2030.

Menurut Fasli, bonus demografi adalah suatu fenomena di mana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Dengan demikian, pada tahun 2020-2030, Indonesia akan memiliki sekitar 180 juta orang berusia produktif, sedang usia tidak produktif sekitara 80 juta jiwa, atau 10 orang usia produktif hanya menanggung 3-4 orang usia tidak produktif, sehingga akan terjadi peningkatan tabungan masyarakat dan tabungan nasional.

Namun, sebaliknya  jika Indonesia tidak mampu menyiapkan akan terjadinya bonus demografi, seperti penyediaan lapangan kerja dan peningkatan kualitas SDM seperti pendidikan yang tinggi dan pelayanan kesehatan dan gizi yang memadai, maka akan terjadi permasalahan, yaitu terjadinya pengangguran yang besar dan akan menjadi beban negara.

Oleh karena itu kita mengharapkan,  antara tahun 2020-2030, Indonesia akan memperoleh windows of opportunity atau jendela peluang dari besarnya kelompok usia muda tersebut. Windows of opportunity ini bisa menjadi kenyataan dengan catatan kulitas SDM harus prima, kelompok usia muda ini bisa terserap di psar kerja serta meningkatknya proporsi perempuan dalam pasar kerja.

Untuk itu tentu saja anggaran pendidikan harus mencapai 20 persen dari APBN saat ini atau besarnya sekitar Rp200 triliun, dan anggaran kesehatan mencapai Rp21 triliun, akan dapat meningkatkan kualitas SDM generasi muda melalui pelatihan keterampilan dan wirausaha guna menghadapi bonus demografi 2020.

Tantangan berat ini juga harus dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh generasi penerus. Sebab jika tidak mereka akan tertinggal di pinggiran dalam percaturan kehidupan bangsa-bangsa. Semoga ini benar-benar menjadi perhatian bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat lainnya.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster